LOVE SICK : Rencana Jahat

image

“Katakan sekali lagi. ”

Damon mencengkeram dagu Lily, memaksanya melihat langsung padanya. Raut wajah tampan miliknya tampak dingin dan pelipisnya berkedut menahan emosi.

Gadis itu meski dengan wajah pucat dan sembab bekas menangis sepanjang malam serta rambut pirang kusut, dia masih tampak begitu cantiknya. Dan kini ia balas menatap pada pria di hadapannya, penuh kemarahan.

“Aku tidak mau melihatmu lagi. ” jeritnya frustrasi.

Damon Osorio Silva tersenyum. Ada rona kebahagiaan yang ganjil pada sinar matanya.

Dengan lembut jempol tangannya mengusap bibir Lily. Bibir yang semalaman telah ia bungkam berkali-kali dengan ciuman keras. Dan hingga kini belum puas, ia masih tergoda untuk mengecupnya.

Damon menelan air ludahnya. Menahan diri dari nafsunya yang tiba-tiba membuncah.

“Sepertinya itu tidak mungkin. ” ucapnya tenang.

Ia kembali mengukur reaksi gadis ini. Matanya dengan tajam menatap Lily dan mengintimidasi.

“Aku …. akan melupakan kejadian ini. Seperti tidak pernah ada. ” bisik gadis itu dengan ekspresi terluka yang tak dapat disembunyikan.

“Kau pun harus melupakannya. Anggap saja tak pernah terjadi. ”

Cengkeraman jari-jari Damon mengetat. Kemarahannya kembali memuncak usai mendengar ucapan gadis itu. Dengan kasar ia menarik kain yang membungkus tubuh Lily. Membuat si gadis kembali panik dan ketakutan.

Tidak. ” pintanya dalam hati. “Jangan lagi. ”

Sekuat tenaga ia mempertahankan selimut yang menutupinya. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya, karena ketakutan telah membekukan pita suaranya.

Lily menangis tercekat.

“Aku tidak akan melupakan hari ini. Bagaimana rasanya tubuh kamu, memiliki kamu dibawah kekuasaanku. Mendengar jeritan kamu, permohonan kamu dan tangisan dari mulut lancang ini. ”

Damon kembali menekan jarinya pada bibir bengkak Lily.

Ia tersenyum culas.

“Aku tidak akan lupa. ” bisiknya di telinga gadis itu.

Lalu menyeringai kejam.

“Tidak setiap hari kan ada yang memperkosamu. Dan kupastikan kau tidak akan pernah bisa lupa, Lily Mariana Van Oord. ”

Damon kembali mengancamnya.

“Aku membencimu. ” pekiknya histeris.

Aku tau. ” Damon tersenyum.

“Aku ingin kau mati. ”

Aku juga tau itu. ”

Lily masih menangis dengan suara terisak. Kedua belah pergelangan tangannya masih terikat di kepala ranjang. Tubuhnya bersandar dan ia menekuk kakinya, menutupi dada serta perutnya. Tapi tidak bisa menghalangi dirinya dari Damon.

Kau milik ku. Selamanya. “

“Aku akan memastikan kamu mengandung anakku lalu tidak ada alasan lagi menunda pernikahan. Dan setelah itu, aku tidak akan pernah melepaskan mu. “

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s