LOVE SICK : Jalang dan Brengsek

image

Demi lelaki ini, aku tabah menghadapi dunia dan telah menjadi wanita jahat.

Isyana sudah bangun sejak dua puluh menit yang lalu. Namun seperti kebiasaannya selama ini, ia masih berbaring dengan wajah menatap Hiro Yamada. Pria berwajah tampan dengan rahang kukuh, yang kini tampak biru karena cambang yang belum dicukur.

Wanita berambut sepunggung ini tersenyum sedih. Jari-jari tangan kirinya menyentuh pipi pria tersebut. Sebuah cincin putih dengan mata berlian tunggal, menghias jari manisnya. Namun kilaunya malah mengingatkannya akan harga yang harus ia bayar demi semua ini.

Pria yang kini berada di ranjangnya. Status yang ia miliki. Serta semua kebahagian ini.

Ia mendapatkannya dengan merebut kebahagian wanita lain. Sebuah keluarga terkoyak oleh keberadaannya. Seorang istri dikhianati dan seorang gadis kecil harus kehilangan figur Ayahnya.

Dan disetiap bangun pagi, rasa bersalah itu terus menggerogotinya. Betapa kejam dan egois dirinya, menghancurkan kehidupan orang lain demi kebahagian diri sendiri.

“Maaf. ” bisiknya pelan entah pada siapa.

Ia lalu memajukan wajahnya dan mengecup sekilas pipi prianya.

“I love you. ”

Isyana bangkit dari ranjang. Tubuh langsingnya telanjang, tampak indah dalam siluet cahaya temaram. Ia meraih sebuah gaun longgar yang tergeletak di lantai.

Harinya sudah dimulai dan ia sudah memilih untuk hidup seperti ini. Jadi, ia harus kuat dan bertahan. Isyana tak boleh menunjukkan kelemahannya. Bukan karena ia takut, hanya saja orang-orang lebih mengharapkan ia bersikap tidak tau malu dan kejam. Dan itulah yang selalu ia lakukan.

Menjadi Si Jalang.

*****

Demi wanita ini, aku rela membuang segalanya dan menjadi pria kejam.

Aku menatapnya dalam diam.

Isyana selalu melakukan ritual yang sama setiap pagi. Membuka matanya, menatapku dengan pandangan sedih. Meminta maaf. Menciumku dan menyatakan cintanya. Lalu memulai aktivitasnya.

Sesungguhnya aku tau isi hatinya. Rasa bersalah yang ia tanggung. Juga rasa malu yang mengetuk nuraninya, karena bisa berbahagia diatas penderitaan wanita lain. Dan pergulatan perasaannya itu selalu ia tutupi dari semua orang termasuk diriku.

Tidak ada yang menyadari betapa tidak mudah ia menjalani semua ini. Tidak ada yang mengetahui Isyana sudah berusaha begitu keras untuk menghindari semua kekacauan ini terjadi. Dan akulah yang paling bertanggung jawab.

Dulu aku sudah pernah menikah dan baru saja mempunyai seorang putri yang lucu. Hidupku nyaris sempurna dengan karir yang mapan dan keluarga kecil yang stabil. Namun entah mengapa, jauh di dasar hatiku ada hampa yang mengigit. Yang tidak kutahu alasannya.

Lena, istri pertamaku adalah wanita baik. Ia cantik dan kami sudah bersama selama bertahun-tahun sebelum menikah. Tadinya aku pikir ialah satu-satunya yang kumau seumur hidup tapi aku salah.

Pertama kali aku melihat Isyana, aku terpaku seolah ada sesuatu dalam dirinya yang berbeda. Dan aku tidak tau apa itu. Padahal penampilannya jauh dari kata menarik. Namun ia selalu tampak santai, nyaman dan percaya diri.

Lalu perlahan semakin aku mengenalnya, aku bagai menemukan seseorang seperti diriku namun lebih pintar. Lebih bijaksana dan jauh lebih sabar. Aku belum menyadari bahwa perasaan ini bisa tumbuh melebihi apa yang pernah aku pikirkan.

Isyana sudah mencapai usia 30 tahun (ia lebih tua 3 tahun dariku). Tetapi ia terlalu sibuk dengan pekerjaan yang ia cintai dan tak terbebani status lajangnya. Ia sungguh wanita mandiri yang berbahagia dengan apapun keadaannya.

Tanpa sadar aku mulai membandingkan Lena dengannya. Dan aku merasa tidak puas.

Isteriku pada saat itu tau ada sesuatu yang menggangguku. Namun tidak berpikiran jauh. Ia percaya padaku, percaya pada kapasitasku sebagai aku.

Tetapi aku ternyata adalah lelaki brengsek. Diam-diam dalam persahabatan dengan Isyana, aku hendak melampauinya. Aku cemburu bila ada lelaki yang menggodanya. Aku tidak menyukai saat orang lain membuatnya tersenyum ataupun tertawa. Dan yang paling sadis adalah aku mencuri sebuah ciuman dengannya.

Isyana kaget. Dan ekspresi wajahnya tampak seolah aku telah menamparnya.

Lalu sebuah pemahaman muncul dibenaknya. Dan ia menolak ide ini sekeras mungkin.

Ia berhenti bicara denganku. Menolak bertemu apalagi memandangku. Dan pindah kerja, meskipun sangat menyukai tempat dan pekerjaannya saat itu. Semua itu dilakukannya agar dapat menjauhiku.

Isyana berhasil.

Aku tak dapat mendekatinya lagi. Tapi masalahnya justru dimulai dari sana. Aku sudah menemukan sesuatu dan harus kehilangan sebelum bisa memiliki.

Aku menggila. Aku tak bahagia. Tak bisa menerima keadaan ini.

Dan aku tak bisa kembali ke kehidupan lamaku seperti saat ia belum datang. Perlahan tapi pasti Lena menyadarinya dan itu membuatku tambah frustasi.

Ia bertanya dan terus bertanya hingga membuatku marah. Kami bertengkar bahkan untuk hal-Hal sepele. Lena mencurigaiku, mengkonfrontasi dan memaksaku mengakui sesuatu yang tidak kulakukan. Lagi dan lagi hingga akhirnya aku yang memang tidak dikaruniai kesabaran, meledakan amarah.

Sebenarnya aku sudah berusaha memperbaiki keadaan dan mempertahankan rumah tangga kami. Tetapi wanita yang terluka dan tersesat dalam kemarahannya, mampu melakukan apa saja.

Lena mendatangi Isyana, mempermalukan dan menterornya. Membuatnya menanggung kesalahan yang tak pernah ia buat. Dan aku terlambat mengetahuinya.

Aku mengerti isteriku terluka hatinya, mengetahui ada wanita lain dihati suaminya. Tapi siapa yang bisa mengontrol kemana arah perginya hati? Seberapa keras pun aku mencoba, tidak bisa membuang kenyataan ini.

Ada yang menjadi korban tak bersalah disini dan ini tidak adil baginya. Tetapi dunia tidak melihatnya seperti itu. Ia dicap sebagai wanita penggoda. Perusak rumah tangga.

Aku tidak bisa melihatnya seperti itu. Semakin aku memikirkannya semakin yakin aku untuk memilih bersamanya meskipun tidak mudah. Lalu kuputuskan menjadi Si Brengsek yang meninggalkan keluarga demi wanita lain.

Aku ingin berbahagia dengannya meski itu menyakiti banyak orang, meskipun dunia menyumpahi dan mengutuk kami. Aku sudah tidak peduli.

Advertisements

LOVE SICK : Kutukan Cinta

image

“Apa kamu mencintaiku?” Ia bertanya untuk kesekian kali.

Mata hitam itu menatapku langsung.

Ada banyak keraguan, rasa takut dan bermacam-macam luka dalam sorot bola matanya, yang tidak terungkap. Yang ia tanggung sendirian selama ini.

Dan untuk kesejuta kalinya, aku tidak perlu menjawabnya. Bukan karena aku tidak mau, namun lebih karena aku tak bisa. Cukuplah aku menatapnya dalam-dalam dan meraih tubuh mungil itu pada pelukan.

Ia merebahkan kepala cantik itu pada bahuku. Pasrah juga sedih. Karena tak ada apapun yang dapat ia lakukan untuk membuatku menyatakan cinta padanya. Namun tak setitik air mata pun turun, tidak, gadisku ini tidak lagi menangis.

“Apa kamu akan pergi lagi?” Bisiknya pelan padaku.

“Apa kali ini, aku masih punya kesempatan?” Tambahnya lagi.

Ia mengalungkan lengannya pada leherku dan memeluk lebih erat. Seolah dengan begitu ia dapat bergantung padaku dan aku tidak akan bisa meninggalkannya.

Sejujurnya ini menghancurkan hatiku.

Melihatnya selalu bertanya seperti itu, meragukan perasaanku serta keberadaan dirinya sendiri. Jauh lebih menyakitkan dibandingkan melihat kemarahannya, saat pertama kali aku meninggalkannya dan memilih wanita lain.

Ya, aku pernah mengkhianati gadis ini.

Bianca Le Blanc.

Gadis yatim piatu yang sangat cantik. Tetapi hidupnya sangat malang, sangat tidak beruntung karena bertemu dan terjerat oleh cintaku.

Aku bersalah padanya.

Aku bahkan tak pantas untuk kembali di sisinya. Meski seberapa keras dan sekuat apapun aku meyakinkannya, akan selalu ada tanya dihatinya. Ragu serta takut akibat pilihanku sebelumnya. Tapi apa dayaku? Aku menyadari bahwa aku benar-benar mencintainya. Dan bersedia melakukan apa saja untuk bersamanya lagi.

Maka aku mendapatkan kesempatan itu. Aku kembali padanya dan dicintai lagi olehnya. Namun ada harga yang harus dibayar.

Dia, mengambil semua kemungkinan bahwa aku bisa menyatakan ‘aku mencintai gadis ini’. Hal itu tidak akan pernah bisa dan tidak akan terjadi lagi padaku. Selama-lamanya.

Lalu disinilah aku, berada tepat disampingnya. Memeluknya erat. Memilikinya lagi. Namun tak bisa sekalipun membalas perkataan cintanya.

Dan hukuman apa yang lebih menyakitkan daripada ini?

Seorang kekasih yang tak dapat menyatakan cinta dengan seseorang yang tidak bisa yakin, dirinya dicintai.

Kepada Mereka yang Hatinya Sedang Lemah, Bertahanlah 5 Menit

image

Sudah berapa kali aku katakan betapa kecewanya aku, serta masih? Tapi apa yang bisa kulakukan. Hidup nggak mudah bagi sebagian orang dan aku mengerti mengapa ada yang memilih bunuh diri.

Alasan dan pilihan buruk. Tidak seburuk itu bila kaulah yang berada di tempatnya.

Orang-orang boleh bilang bukan hidup bila tidak ada riak dan goncangan. Mereka bisa saja menyalahkan yang tidak sanggup dan menyerah kalah. Ya, memang mereka pecundang pengecut. Meski begitu mereka tetap manusia terlepas dari apapun pilihan mereka pada akhirnya.

Karena untuk hidup, manusia butuh keberanian. Berani menghadapi masalah. Berani menjalani hari yang sulit. Berani melangkah meskipun sebelumnya telah melakukan kesalahan yang tak termaafkan. Berani untuk tetap hidup walaupun hidup itu sendiri tidak begitu indah dan pantas untuk dipertahankan.

Lalu apa yang berharga? Apa yang dapat mereka jadikan pegangan?

Harapan akan selalu ada bagi mereka yang percaya. Sekali lagi, untuk yang terakhir kali percaya bahwa Tuhan lebih mencintai kehidupan. Jadi tetaplah hidup selama itu mungkin.

Nantinya setelah semua kesulitan ini berlalu, orang-orang yang paling kesepian yang menjadi orang baik hati. Hanya mereka yang paling terluka yang senyumnya menyentuh. Dan mereka yang rusak jiwanya yang kelak menjadi paling bijaksana. Karena mereka tau dengan pasti dan tidak ingin orang lain merasakan penderitaan seperti yang pernah mereka alami.

Jadi hiduplah untuk 5 menit kedepan, sejam kemudian dan esoknya. Dan bila masih memikirkan tentang mengakhirinya, ingatlah untuk tidak melakukan hari ini tetapi besok dan besoknya lagi. Sampai kematian sendiri yang datang, karena memang tiap jiwa pasti akan mati suatu saat nanti. Namun jangan sekarang, jangan karena alasan lelah dan lemah.

Mental Gratisan Tidak Akan Mengerti

image

Pernah nonton film dengan nyewa satu studio untuk diri sendiri?

Kebayang nggak pas filmnya diputar, kamu bebas duduk dimana aja. Dan nggak ada penonton rese yang jalan kesana kemari, berisik atau sibuk mesum dengan pasangan, nggak ada orangtua bodoh yang bawa anak kecil dan sepanjang film anaknya nangis, merengek atau lari-larian.

Aku pernah.

Kamis malam kemarin (05-03-2015), aku nonton film The Con Artist bareng seorang sahabat. Kami dapat posisi strategis dan benar-benar cuma berdua nonton filmnya. Berasa horang kayah yang nyewa satu studio kayak di adegan drama-drama negeri gingseng. Wkwkwk.

Filmnya bagus kok. Ceritanya tentang pencuri profesional sekaligus pemalsu yang saking jagonya, enggak punya catatan kejahatan dan bahkan gak pernah didengar orang dunia hitam.

Cuma, yaitu tadi. Enggak ada yang mau nonton film Korea di bioskop Indonesia. Mungkin orang-orang terlalu gengsi dan underestimate. Lebih milih produksi Hollywood yang bahkan ada juga sih yang sampah or lebih suka film esek-esek yang dicoveri label horor.

Underestimate, karena menganggap aktor Korea cuma jual tampang mulus bekas operasi plastik. Tanpa sadar melewatkan betapa jago dan penuh kejutannya para penulis cerita atau skenario negeri itu.

Well, memangnya kenapa kalo muka mereka lebih mulus dari pantat bayi? Toh kalo akting mereka jelek, ya tetep aja jelek dan gak bakalan ada yang mau nonton filmnya. Dan siapa bilang aktor Hollywood bersih dari plastic surgery? Kamu belum tau aja.

Balik ke film The Con Artist, ini film perdana Kim Woobin dan ia cemerlang. Pantas disandingkan dengan Lee Min Ho yang jauh lebih senior. Woobin cakep, tinggi banget dan suaranya husky. Bener-bener tipe gue banget. Wkwkwk.

Film ini ibarat versi mininya Ocean Eleven dan one man standingnya The Italian Jobs. Menarikkan. So, masih nggak tertarik nonton?

Apa?? Nunggu bajakan atau download gratis? Wew, enggak bisa bilang apa-apa deh. Mental gratisan pasti nggak bisa ngerti kalau untuk bikin sesuatu perlu usaha dan daya, dan itu semua perlu modal. Paling tidak untuk seniman yang karyanya kau sukai, belilah karya aslinya. Untuk menghormati dan menghargai kerja kerasnya. Dengan cara itu kita mendukung mereka. Toh, merekakan juga manusia yang butuh makan, artinya ya butuh uang juga. Ya kan?

Make me smile ya

Hari yang baik adalah bangun di pagi hari dan ngerasain bahagia. Tapi hari terbaik tetaplah hari dimana kau bersyukur sebelum jatuh tertidur.

Well, kemarin hari yang membahagiakan buatku. Ada terlalu banyak hal menyenangkan dan pantas untuk disyukuri. Ketemu teman lama. Gajian. Main sama sohib. Dapat oleh-oleh dari kampung. Dapat kado ulang tahun hal yang disukai. Bisa kirimkan duit buat adik dan nyokap. Dapat cupcake lucu. Pokoknya banyak hal deh. Dan itu membuat aku tersenyum sangat lebar.

Hehehe.

Dan sekarang aku sempatkan nulis sambil maskeran, cool bangetkan?

Sebenarnya sih aku lagi flu, seharian bersin dan hidung meler. Tapi anehnya, itu gak menghalangi aku untuk merasa ini hari terbaik.

Thank Alloh, baim udah ditolong.*
(*Aku harap kalian ngerti joke ini).