Mental Gratisan Tidak Akan Mengerti

image

Pernah nonton film dengan nyewa satu studio untuk diri sendiri?

Kebayang nggak pas filmnya diputar, kamu bebas duduk dimana aja. Dan nggak ada penonton rese yang jalan kesana kemari, berisik atau sibuk mesum dengan pasangan, nggak ada orangtua bodoh yang bawa anak kecil dan sepanjang film anaknya nangis, merengek atau lari-larian.

Aku pernah.

Kamis malam kemarin (05-03-2015), aku nonton film The Con Artist bareng seorang sahabat. Kami dapat posisi strategis dan benar-benar cuma berdua nonton filmnya. Berasa horang kayah yang nyewa satu studio kayak di adegan drama-drama negeri gingseng. Wkwkwk.

Filmnya bagus kok. Ceritanya tentang pencuri profesional sekaligus pemalsu yang saking jagonya, enggak punya catatan kejahatan dan bahkan gak pernah didengar orang dunia hitam.

Cuma, yaitu tadi. Enggak ada yang mau nonton film Korea di bioskop Indonesia. Mungkin orang-orang terlalu gengsi dan underestimate. Lebih milih produksi Hollywood yang bahkan ada juga sih yang sampah or lebih suka film esek-esek yang dicoveri label horor.

Underestimate, karena menganggap aktor Korea cuma jual tampang mulus bekas operasi plastik. Tanpa sadar melewatkan betapa jago dan penuh kejutannya para penulis cerita atau skenario negeri itu.

Well, memangnya kenapa kalo muka mereka lebih mulus dari pantat bayi? Toh kalo akting mereka jelek, ya tetep aja jelek dan gak bakalan ada yang mau nonton filmnya. Dan siapa bilang aktor Hollywood bersih dari plastic surgery? Kamu belum tau aja.

Balik ke film The Con Artist, ini film perdana Kim Woobin dan ia cemerlang. Pantas disandingkan dengan Lee Min Ho yang jauh lebih senior. Woobin cakep, tinggi banget dan suaranya husky. Bener-bener tipe gue banget. Wkwkwk.

Film ini ibarat versi mininya Ocean Eleven dan one man standingnya The Italian Jobs. Menarikkan. So, masih nggak tertarik nonton?

Apa?? Nunggu bajakan atau download gratis? Wew, enggak bisa bilang apa-apa deh. Mental gratisan pasti nggak bisa ngerti kalau untuk bikin sesuatu perlu usaha dan daya, dan itu semua perlu modal. Paling tidak untuk seniman yang karyanya kau sukai, belilah karya aslinya. Untuk menghormati dan menghargai kerja kerasnya. Dengan cara itu kita mendukung mereka. Toh, merekakan juga manusia yang butuh makan, artinya ya butuh uang juga. Ya kan?

One thought on “Mental Gratisan Tidak Akan Mengerti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s