Easy Girl, Take it Easy

image

Ketemu kenalan lama setelah bertahun-tahun banget, yang dahulu sempat saling goda, taksir-taksiran, hampir jadian tapi karena sesuatu hal gagal. It means something-kan? Harusnya.

Tapi setelah beberapa kali chatting, enggak sengaja liat profil sosmed-nya gambar anak balita. Mwuahahaha…. Well, kesimpulannya sesuatu enggak harus punya arti kok. Jangan memaksakan takdir dan nggak usah pula mencoba menebak kemana arahnya akan membawamu.

Ok. Aku tidak akan sesantai ini kalo enggak punya kerjaan. Enggak mandiri. Hidupnya numpang sama ortu. Plus dikejar deadline usia, jodoh serta lain hal. Tapi hidup adalah pilihan yang kita buat. Bagaimana dan apa, kita yang menentukan meskipun kadang (seringkali) enggak sesuai dengan yang kita rencanakan.

Aku pernah bilang sama my lil bro, bahwa aku sejujurnya tidak terobsesi dengan cinta. Pernikahan. Dan anak. Kalau mau ngelangkahin (duluan nikah) silahkan aja. Kebetulan adikku sudah bertahun pacaran dengan seorang gadis dari jaman SMU sampai lulus kuliah dan sudah bekerja.

Adikku ngakak. “Terus lo mau mati tua, kesepian dan sengsara kak?” Tanyanya.

Aku senyum.

“Aku bahkan nggak berencana untuk hidup lama. ” jawabku percaya diri.

Cita-citaku kan memang pengen mati muda. Aneh ya? Dikit. Dikit kok.

UNTUNG SAJA TUHAN TIDAK MINTA UANG

image

Sebagai manusia seberapa susahnya sih memberikan bangku pada orang tua, orang cacat,  perempuan hamil ataupun ibu yang membawa anak kecil? Apa beratnya memberikan uang recehan pada pengemis dilampu merah, toh kita nggak bakalan miskin gara-gara itu? Dan apa ruginya buat mengembalikan barang orang lain yang kita temukan? Yang bukan milik kita, bukan hak kita. Dan apakah enggak terlintas dibenak kita bahwa dengan menemukan barang berharga milik orang lain, sebenarnya kita sedang diuji. Ujian kejujuran. Ujian moralitas. Ujian dari Tuhan lah.

Ada sebuah peribahasa : orang kaya akan diuji dengan harta yang ia punya. Apakah ia kikir, apa ia sanggup hidup tanpa hartanya. Lalu orang miskin akan diuji apanya? Imannya.

Kemiskinan dekat dengan kekufuran. Karena kemiskinan, manusia bisa kehilangan kepercayaan, harga diri, kehormatan, keberanian, kebaikan bahkan mengingkari Tuhannya sendiri. Makanya miskin itu adalah cobaan yang paling berat bagi manusia. Dan banyak yang akhirnya kalah karena ini.

Diawal bulan puasa kemarin, sahabatku kehilangan dompetnya dipusat perbelanjaan. Isinya sejumlah uang dollar, atm dan surat penting lainnya. Dan sehari setelah itu ada seseorang menghubungi ke nomor ponselnya (private number) mengaku menemukan dompetnya tapi tidak dengan uangnya. Yang parahnya adalah ia minta sejuta untuk uang terimakasih.

Singkat cerita saat temanku ini bertemu dengannya untuk mengambil dompetnya dan menyerahkan uang jasanya, ia (si penemu) masih sempat meminta keikhlasan temanku atas uangnya. Yang menurutku enggak masuk diakal sama sekali.

Ibaratnya ada orang kena musibah dan lo bukannya nolong malah maksain minta duitnya supaya lo mau nganterin ke rumah sakit. Terus masih mengganggap diri lo pahlawan. Otak lo dimane????

Ketika pertolongan harus dibayar dengan materi, dibagian apa hal tersebut bisa disebut bantuan?   Bagiku ini lebih tampak sebagai sebuah transaksi ekonomi, jual beli. Dan kalau berbuat baik sesulit itu, aku yakin hidup orang-orang seperti ini emang kasihan banget. Karena untuk kebaikan aja mereka harus beli dan enggak bisa gratis. Padahal Tuhan aja yang super duper baik, enggak pernah minta dibayar pakai uang. Dan kalaupun iya, memangnya uang mereka cukup untuk membayar semua kebaikan-NYA?

SELAMAT HARI KEMENANGAN SETAN

image

Pertama sekali, aku nggak merasa bersalah nggak nulis, nggak posting apapun selama hampir 2 bulan ini (seingatku). Dan here we are… di akhir bulan ramadhan. Puasaku cuma bolong 3 hari loh (how cool is that?) tapi enggak dapat ikut sholat ied.

Terus kita ngomongin apa malam ini?

Kalau berpuasa tak menghalangi mu untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang agama, ya jangan salahkan siapapun kalau ramadhan ini berlalu dan kau tak mendapatkan apa-apa.

Setelah sebulan berpuasa sambil tetap mencari rezeki, wajar kalau aku begitu bersemangat menyambut hari raya. Meskipun enggak mudik dan pulang kerumah orang tua. Tapi aku tetap ambil jatah cuti buat bersantai-santai. Kenapa enggak? Bagi seorang muslim di Indonesia, lebaran adalah puncak dari segala liburan. Ini yang paling penting.

Sementara beberapa teman kerja di kantor (muslim di kantorku adalah minoritas) sebagian besar dari mereka sama sekali tidak menjalankan ibadah puasa. Bukan karena enggak sahur, enggak sanggup dan dalam keadaan sehat. Mereka makan, minum, merokok. Dan sudah pasti juga tidak pernah sholat 5 waktu. Logikanya aku sih, puasa itu lebih gampang dari pada disiplin sholat 5 waktu setiap hari. Kalo yang gampang aja susah melakukan, apa kabar yang sulit?

Oh aku bukan mau menghakimi mereka. Itu sama sekali bukan urusanku kok, itu urusan mereka langsung ke Tuhan. Cuma kalo pada akhirnya mereka merasa lebaran ini jadi tidak penting, yah wajarlah.

Segala sesuatu yang didapatkan dengan cara tidak mudah pasti akan sangat berharga. Contohnya seperti sebulan menahan diri dengan lapar, dahaga, nafsu dan tabah lalu bertemu hari kemenangan. Lah kalo yang tidak ada perjuangannya, mau ketemu hari kemenangan apa coba? Hari kemenangan setan lah.