Kamu apa kabar?

image

Dalam pelukan dia, harusnya tak ada kesedihan. Kalaupun ada tangis, semoga bukan karena alasan yang salah.

Kamu apa kabar?

Kadangkala terlintas tanya, mengapa aku tidak menjadi pilihan? Mengapa perasaan bisa berubah? Mengapa hanya aku sendiri yang masih mendekap sepi seolah karib?

Aku enggak tau jawabnya. Atau masih perlukah, apabila yang kubisa hanya menunggu dalam ketidakpastian.

Ketika kamu memutuskan pergi, aku begitu marah dan terluka. Lalu menyalahkan diri hingga sampai pada tahap menerima, mungkin saja aku memang bukan yang terbaik untukmu. Bahwa bahagiamu adalah dia.

Dan aku menyadari ketika kita bersama, aku percaya padamu. Aku tulus dan yang kurasakan adalah nyata, senyata ciuman-ciuman yang kita bagi disela rak buku, dibalik pintu kamar ibumu dan di hari hujan deras malam itu. Kinipun aku masih mempercayai dirimu.

Kau dan kapasitas mu dalam mencintai. Aku hanya kehilangan kesempatan itu.

Kini aku berharap kau baik-baik saja, dicintainya. Dirawat dan dijaganya. Bahagia harus lebih daripada saat-saat kita. Sehingga penyesalan ini tak boleh mempunyai arti.

(Sumber foto : @zarryhendrik)

Titik dan Koma

image

Dalam hidup, aku belajar kadang garis akhir bukanlah hal utama. Yang paling penting justru adalah selama prosesnya.

Aku mengalami berkali kegagalan. Tak semua usaha berhasil baik. Tidak semua rencana berjalan dengan mulus. Malah terkadang apa yang aku inginkan sering (kali) tidak sesuai dengan kenyataan. Hidup memang sebercanda itu, percayalah.

Lalu apa?

Apa lantas kita berhenti? Berhenti hidup dan nantangin Tuhan. Mungkin sesekali iya, manusiawi kok. Kita berhenti jadi manusia. Kita berhenti percaya. Lebih memilih memeluk luka dan meludahi nama-NYA. Bergelung dalam nestapa seolah itu mengubah keadaan.

Lalu kita mencoba menerima keadaan. Menjalani hidup, sehari dua hari. Sebulan. Hingga bertahun kemudian. Kita masih hidup, bertahan.

Luka itu, kehilangan itu, aku yakin masih ada. Tidak pernah bisa hilang tanpa meninggalkan bekas. Tapi kita masih hidup, itu yang terpenting. Karena hidup jauh lebih berharga. Karena hidup memang pantas dipertahankan sekuat tenaga. Karena itu hidup lebih penting daripada mati. Karena tanpa hidup, kematian jadi kehilangan kesakralannya.

Hidup itu seperti tanda titik (.) dan koma (,) bagi para penulis. Kami bahkan tidak bisa berhenti meski sudah berkali-kali membubuhkan titik dan koma pada akhir kalimat. Mengapa? Karena ini bukan akhirnya. Karena ini belum akhirnya.

Lalu huruf-huruf, kata akan terus bermunculan. Suka atau tidak. Sama seperti waktu yang harus dilalui, karena ini belum saatnya bagimu untuk menyerah. Jadi hiduplah meski itu sulit. Jalanilah walaupun sesungguhnya di dalam kau sudah berkali-kali mati.

Teruntuk : Jon Anwar Simanjuntak (1-1-1959/28-8-2005), beloved pop, our friend, my first crush.

Manusia Kesepian Mencari Perhatian

image

Baru saja menghapus komentar di postingan salah satu tulisan lama saya. Komentar marah, kasar dan ngajak berantem karena merasa enggak terima dengan apa yang saya tulis. Bukannya tersinggung saya malah heran, kok santai banget hidupnya? Punya banyak waktu buat nulis hal enggak menyenangkan seperti itu. Kemarahan sebesar itu, serius cuma karena tulisan aja? Bukan karena masalah lain terus pelampiasannya disini. Kan banyak tuh, manusia yang suka menekan orang lain yang dianggapnya lebih rendah posisinya dibandingkan dirinya. Sindrom superior gitu. Hehehe…. ngerti kan?

Sebenarnya bukan pertama kali sih, nerima sumpah serapah yang beginian jadi udah nggak bisa dibawa kehati. Waktu musim pilpres tahun kemarin malah lebih ‘gila’. Cukuplah dibaca, “ooh…” delete sekalian blokir kalau perlu.

Kenapa?

Karena saya lebih memilih untuk enggak mau terganggu oleh perkataan negatif oleh orang yang tidak dikenal, yang bahkan sangat mungkin tak peduli dengan saya secara personal ataupun tidak.

Tidak bisa dipungkiri, akibat komunikasi via internet semudah satu ketukan jari. Lalu ada saja orang yang dengan mudahnya melemparkan omong kosong dan berharap untuk diberi applause, diberikan kemenangan. What for?

Entahlah.

Mungkin karena ini sangat mudah hingga nyaris terasa tanpa kewajiban bertanggungjawab. Mereka ngomong hal jahat, mengatakan hal jahat, berkomentar jahat, seolah memang sudah terlahir sebagai the real villian ever. Setiap hal yang berbeda, yang tidak mereka sukai atau setujui langsung dibully berjamaah dengan sesamanya. Dan seolah itu sudah benar, sehingga mutlak tak ada tempat untuk mereka yang lain, yang berbeda.

Orang-orang sudah lupa cara bersopan santun. Berkata-kata dengan baik, menyampaikan maksud dengan cara bijak. Dan ini bukan karena salah didikan, bukan juga salah kemudahan komunikasi tanpa sensor. Ini murni pilihan.

Pilihan yang salah.

Saya enggak percaya ada orang yang terlahir jahat tapi saya yakin, ada orang-orang yang membuat keputusan salah dan tak punya rasa malu apalagi rasa tanggungjawab untuk pilihannya itu. Dan saya gak mau jadi bagian dari itu baik sebagai pelaku ataupun objek. Kita bisa melakukan kesalahan kapan saja tapi lebih dari itu, Tuhan memberikan kita kesempatan untuk memulai lagi, awal yang baru. Selama kita masih ingin melakukannya lagi dan coba lagi. Dan itu jauh lebih baik.