Manusia Kesepian Mencari Perhatian

image

Baru saja menghapus komentar di postingan salah satu tulisan lama saya. Komentar marah, kasar dan ngajak berantem karena merasa enggak terima dengan apa yang saya tulis. Bukannya tersinggung saya malah heran, kok santai banget hidupnya? Punya banyak waktu buat nulis hal enggak menyenangkan seperti itu. Kemarahan sebesar itu, serius cuma karena tulisan aja? Bukan karena masalah lain terus pelampiasannya disini. Kan banyak tuh, manusia yang suka menekan orang lain yang dianggapnya lebih rendah posisinya dibandingkan dirinya. Sindrom superior gitu. Hehehe…. ngerti kan?

Sebenarnya bukan pertama kali sih, nerima sumpah serapah yang beginian jadi udah nggak bisa dibawa kehati. Waktu musim pilpres tahun kemarin malah lebih ‘gila’. Cukuplah dibaca, “ooh…” delete sekalian blokir kalau perlu.

Kenapa?

Karena saya lebih memilih untuk enggak mau terganggu oleh perkataan negatif oleh orang yang tidak dikenal, yang bahkan sangat mungkin tak peduli dengan saya secara personal ataupun tidak.

Tidak bisa dipungkiri, akibat komunikasi via internet semudah satu ketukan jari. Lalu ada saja orang yang dengan mudahnya melemparkan omong kosong dan berharap untuk diberi applause, diberikan kemenangan. What for?

Entahlah.

Mungkin karena ini sangat mudah hingga nyaris terasa tanpa kewajiban bertanggungjawab. Mereka ngomong hal jahat, mengatakan hal jahat, berkomentar jahat, seolah memang sudah terlahir sebagai the real villian ever. Setiap hal yang berbeda, yang tidak mereka sukai atau setujui langsung dibully berjamaah dengan sesamanya. Dan seolah itu sudah benar, sehingga mutlak tak ada tempat untuk mereka yang lain, yang berbeda.

Orang-orang sudah lupa cara bersopan santun. Berkata-kata dengan baik, menyampaikan maksud dengan cara bijak. Dan ini bukan karena salah didikan, bukan juga salah kemudahan komunikasi tanpa sensor. Ini murni pilihan.

Pilihan yang salah.

Saya enggak percaya ada orang yang terlahir jahat tapi saya yakin, ada orang-orang yang membuat keputusan salah dan tak punya rasa malu apalagi rasa tanggungjawab untuk pilihannya itu. Dan saya gak mau jadi bagian dari itu baik sebagai pelaku ataupun objek. Kita bisa melakukan kesalahan kapan saja tapi lebih dari itu, Tuhan memberikan kita kesempatan untuk memulai lagi, awal yang baru. Selama kita masih ingin melakukannya lagi dan coba lagi. Dan itu jauh lebih baik.

4 thoughts on “Manusia Kesepian Mencari Perhatian

    • Saya kurang setuju sih. Karena bagi saya pribadi, mau di dunia maya atau internet, saya tetap saya. Dengan kapasitas yang sama. Sopan santun adalah harga mati. Itu menurut saya loh.🙂

      • Bener juga sih hukum ‘saya tetap saya’ dimana pun dunianya. Karena memang, di dunia riil pun sopan santun udah langka.

      • Tuh kan….
        Oh ya, udah pernah liat film Kingsman? Ada sebuah kutipan keren (Englishman in New York – Sting) yang berkali-kali disebutkan “manners maketh man “.
        Saya percaya itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s