Kita mungkin bisa

image

Aku harap kamu berbahagia. Lebih daripada saat kita bersama. Karena kalau tidak, betapa sia-sia semua airmata yang tumpah, perdebatan dan perpisahan ini. Maka akan menyakitkan bila ternyata kau tidak menemukan apa yang kau cari, yang tidak aku miliki. Yang pada akhirnya, tidak ada satupun dari kita berhak bahagia tanpa satu sama lainnya.

Advertisements

Malu dan Tidak Bangga sebagai Muslim

12274247_1049275645091942_8901062718334519651_n

Inikah islam yang cinta damai? Yang bahkan dalam salamnya saling mendoakan kesejahteraan, keselamatan dan kasih sayang.

Sesungguhnya saya merasa malu. Malu dengan saudara seakidah yang bisa-bisanya menganggap pembunuhan sengaja dengan alasan apapun itu, boleh saja asal bukan menyangkut dirinya, agamanya, keluarganya, kaumnya.

Sama dengan betapa saya malu mengakui bahwa ISIS itu ya orang-orang Islam juga (siapa bisa mengira orang lain bila yang menjagal manusia sambil berteriak “allahu akbar” dengan kencang).

Saya malu tapi ya memang benar mereka islam, muslim. ISIS, saudara saya sesama islam. tapi juga benar bahwa tindakan mereka salah, yang membunuhi manusia lain dengan kejam. Saya sangat tidak menyetujui ini.

Lupakah kalian bahwa berkali-kali di alquran tertulis, Alloh maha pengasih, Alloh maha penyayang, maha pemurah, maha pemelihara, maha lembut, maha penyantun, maha pengampun, maha bijaksana, maha memelihara, maha melindungi, maha memberikan manfaat dan maha sabar. Dengan sifat Tuhan kita yang seperti ini, bagaimana mungkin kita bisa membenarkan tindakan-tindakan tidak beradab. Membunuhi manusia lain, memperkosa para wanita, mengebom anak-anak kecil, membakar masjid. membakar gereja, menghilangkan rasa aman, menimbulkan ketakutan bagi orang-orang yang tidak bersalah, yang tidak melakukan apa-apapun.

Malu saya kepada Alloh.
Malu karena perbuatan saudara-saudara seiman saya yang seperti membenarkan pembunuhan terhadap orang lain karena tidak seiman.
Malu karena ISIS yang melakukan kejahatan dan ia adalah juga bagian dari umat islam.

Saya benar-benar merasa sangat malu. Karena kalian telah melupakan bahwasanya islam adalah rahmatan lil ‘alamin (menjadi rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta). Seluruh alam semesta artinya seluruh manusia, hewan, jin, tumbuhan bahkan bagi alien diplanet apapun itu. Bukan terbatas untuk kita muslim saja kan?

Kita harus malu dan tidak bangga karenanya. Bukan seperti ini islam harusnya.

Sumber Gambar via Twitter.

FRIEND=SHIP

image

Pagi ini di kantor, dimulai dengan perasaan gak enak. Gara-gara pesan skype dari teman. Bukan teman yang sembarangan pula. Yang saya hormati karena jujur saja, saya hutang budi padanya.

Masalahnya sepele sih dan sebagian besar saya memang salah. Tapi entahlah, saya seperti merasa dikhianati. Marah. Lalu sedikit menangis dan pada akhirnya ini yang paling enggak enak. Saya kecewa.

Kita temenan bukan sehari dua hari. Sering tidak cocok tapi pada akhirnya salah satu pihak pasti ada yang ngalah dan semuanya berjalan baik-baik aja. Tapi yang tadi pagi emang agak mengejutkan.

Dan saya hampir saja melakukan hal yang akan saya sesali akhirnya. Yang bisa membuat kehilangan teman penting. Sudah saya bilang kalau saya berhutang budi padanya kan? Tapi mungkin itulah letak masalahnya. Saya merasa tidak sebanding dengannya. Saya merasa rendah diri. Saya selalu seperti itu padanya.

Tapi yakin, saya pikir bicara baik-baik, berhadapan, lebih baik daripada melalui percakapan sosial media apapun. Daripada menyindir no mention di sosial media yang sama-sama kita temenan juga. Kita bukan gak bisa ngomong langsung. Tapi yah itu tadi… saya cuma bisa bilang saya kecewa.

Ini mengingatkan saya betapa dulu saya lebih suka bergaul dengan anak laki-laki. Karena persahabatan diantara cewek itu rapuh. Dan itu yang terjadi lagi. Yang bisa saya lakukan saat ini hanyalah menarik diri, sebisa mungkin tidak mencari masalah.

ENGGAK PERLU SEKAYA WAYNE, SEKUAT CLARK, SECERDAS STARK ATAUPUN BENNER

image

Sebagai kaum proletar, saya sudah terbiasa naik angkutan umum jenis apapun. Dari yang pelayanannya bagus dan penampilan mewah sampai yang paket hemat alias murah meriah muntah. Tidak jarang dalam perjalanannya saya ketemu dengan berbagai macam perangai sopir. Ada yang ramah, ada yang mukanya kejam (kebanyakan berasal dari kampung saya, Medan), ada yang keteknya bau, ada yang ganjen, ada yang selera musiknya bagus dan ada yang parah juga (terutama fan band itulah, tak usah saya sebutkan).

Nah dua hari yang lalu pas berangkat kerja, saya naik angkot seperti biasa. Penumpangnya lumayan banyak dan di satu simpang, naiklah seorang gadis dengan wajah ceria. Sekitar 15 menit berjalan dan mungkin sudah dekat dengan tujuannya, si gadis itu menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang sepeser pun.

Panik dong. Saya juga kalau dalam keadaan gitu pasti sama bingungnya. So, ia minta tolong sama orang disebelahnya, “kak aku minta uangnya sepuluh ribu. Aku lupa bawa duit sama sekali. ”

Nah orang yang disebelahnya, buka tas, buka dompet (sempat sih saya ngintip tapi gak ketahuan isinya berapa, hehehe). Terus dia bilang enggak ada.

Kemudian si gadis itu minta tolong sama saya, secara saya duduk disebelah orang yang tadi ia mintai tolong. Saya yang awalnya cuma, “hah, apa?” Gak ngerti sampai ia mengulangi permintaannya.

Tanpa banyak basa-basi saya kasih aja permintaannya. Ia kelihatan senang dan berterima kasih. Bahkan sampai sebelum turun pun kembali mengucapkan terimakasih. Saya cuma senyum aja, menanggapinya.

Sebenarnya kejadian gini sudah pernah juga saya alami sebelumnya. Sekitar setengah tahun lalu, saat saya mau ke Mall terdekat dari rumah saya, ada anak gadis yang naik angkot bareng saya tapi gak megang uang sama sekali dan katanya bakal dijemput saudaranya di tempat ia turun. Jadi saudaranya itu yang bayarin ongkosnya. Tapi pas sampai di halte Mall saudaranya enggak nampak batang hidungnya. So, karena kasihan saya bayarkan ongkosnya terus saya tinggal pergi.

Pertimbangan saya nolongi gadis-gadis itu adalah kasihan. Sopir angkutan umum di kota ini, lumayan kejam loh. Teman saya pernah liat penumpang (cewek) yang kurang bayar ongkos, ditabok sama pak sopirnya. Saya juga beberapa kali liat sopir angkot yang kasar dengan penumpangnya. Yah walaupun gak semuanya. Ada juga yang baik, kadang kalau gak ada kembali an untuk uang besar, digratiskan saja olehnya.

Balik kemasalah awal, mungkin bantuan saya ini gak seberapa. Dan maksud dari tulisan ini sama sekali bukan untuk sombong atau pamer sih. Saya cuma mau bilang bahwasanya kita, yang cuma orang biasa. Yang gak punya harta berlebih-lebih. Yang hidupnya senin kamis, senin nya puasa kamis nya juga masih belum buka. Kita bisa kok berbuat baik.

Saya gak mau ngomongin moral, kemanusiaan, budi pekerti atau bahkan ajarannya agama. Kita masing-masing punya pertimbangan sendiri. Tapi gak banyak yang bisa mengingatkan bahwa kita bisa jadi penolong bagi orang lain. Enggak perlu harus kaya dulu, kuat dulu atau berkuasa dahulu. Kuncinya cuma satu aja kok. Jangan sia-siakan kesempatan berbuat baik.

Gimana?

Tentang hal-hal yang tidak ingin diingat dan tentang hal yang tidak ingin kulihat

Kalau hal-hal yang membuat kita bersama sudah tidak ada lagi, untuk apa kita bertahan? Setidaknya bila sudah saatnya, penting bagiku jadi orang pertama yang pergi. Agar tak perlu menatap punggung dinginmu sebagai kenangan terakhir yang aku ingat tentang kita. Karena kupilih tak sanggup menjadi seseorang yang tidak lagi dicintai. Sudah cukup.

Membeli Mimpi

Menemukan pria yang tepat, itu sama kayak percaya iklan obat jerawat. Sebagian besar mitos sebagiannya lagi cuma harapan dan sisanya adalah rasa putus asa. Celakanya hal itu yang menjadi dasar mengapa begitu banyak orang yang termakan iklan. Karena ingin percaya hal yang menjadi nyata. Padahal kita sudah tau apa yang akan terjadi tapi tetap saja kita membeli mimpi ini.

Kita manusia, gampang sekali ditebak. Mudah putus asa, lupa bersyukur saat dicukupi, lemah terhadap godaan, cenderung menyelamatkan diri sendiri saat terjepit. Dan gak heran kalau kita bahkan begitu dibenci setan. Karena bahkan setan saja sangat fokus dengan tujuannya dari dulu sampai sekarang, tapi enggak dengan manusia. Kita gampang berubah, gampang beradaptasi serta selalu melakukan kesalahan yang sama.

Kita lemah dan bodoh. Dan itu bukan pujian.