ENGGAK PERLU SEKAYA WAYNE, SEKUAT CLARK, SECERDAS STARK ATAUPUN BENNER

image

Sebagai kaum proletar, saya sudah terbiasa naik angkutan umum jenis apapun. Dari yang pelayanannya bagus dan penampilan mewah sampai yang paket hemat alias murah meriah muntah. Tidak jarang dalam perjalanannya saya ketemu dengan berbagai macam perangai sopir. Ada yang ramah, ada yang mukanya kejam (kebanyakan berasal dari kampung saya, Medan), ada yang keteknya bau, ada yang ganjen, ada yang selera musiknya bagus dan ada yang parah juga (terutama fan band itulah, tak usah saya sebutkan).

Nah dua hari yang lalu pas berangkat kerja, saya naik angkot seperti biasa. Penumpangnya lumayan banyak dan di satu simpang, naiklah seorang gadis dengan wajah ceria. Sekitar 15 menit berjalan dan mungkin sudah dekat dengan tujuannya, si gadis itu menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang sepeser pun.

Panik dong. Saya juga kalau dalam keadaan gitu pasti sama bingungnya. So, ia minta tolong sama orang disebelahnya, “kak aku minta uangnya sepuluh ribu. Aku lupa bawa duit sama sekali. ”

Nah orang yang disebelahnya, buka tas, buka dompet (sempat sih saya ngintip tapi gak ketahuan isinya berapa, hehehe). Terus dia bilang enggak ada.

Kemudian si gadis itu minta tolong sama saya, secara saya duduk disebelah orang yang tadi ia mintai tolong. Saya yang awalnya cuma, “hah, apa?” Gak ngerti sampai ia mengulangi permintaannya.

Tanpa banyak basa-basi saya kasih aja permintaannya. Ia kelihatan senang dan berterima kasih. Bahkan sampai sebelum turun pun kembali mengucapkan terimakasih. Saya cuma senyum aja, menanggapinya.

Sebenarnya kejadian gini sudah pernah juga saya alami sebelumnya. Sekitar setengah tahun lalu, saat saya mau ke Mall terdekat dari rumah saya, ada anak gadis yang naik angkot bareng saya tapi gak megang uang sama sekali dan katanya bakal dijemput saudaranya di tempat ia turun. Jadi saudaranya itu yang bayarin ongkosnya. Tapi pas sampai di halte Mall saudaranya enggak nampak batang hidungnya. So, karena kasihan saya bayarkan ongkosnya terus saya tinggal pergi.

Pertimbangan saya nolongi gadis-gadis itu adalah kasihan. Sopir angkutan umum di kota ini, lumayan kejam loh. Teman saya pernah liat penumpang (cewek) yang kurang bayar ongkos, ditabok sama pak sopirnya. Saya juga beberapa kali liat sopir angkot yang kasar dengan penumpangnya. Yah walaupun gak semuanya. Ada juga yang baik, kadang kalau gak ada kembali an untuk uang besar, digratiskan saja olehnya.

Balik kemasalah awal, mungkin bantuan saya ini gak seberapa. Dan maksud dari tulisan ini sama sekali bukan untuk sombong atau pamer sih. Saya cuma mau bilang bahwasanya kita, yang cuma orang biasa. Yang gak punya harta berlebih-lebih. Yang hidupnya senin kamis, senin nya puasa kamis nya juga masih belum buka. Kita bisa kok berbuat baik.

Saya gak mau ngomongin moral, kemanusiaan, budi pekerti atau bahkan ajarannya agama. Kita masing-masing punya pertimbangan sendiri. Tapi gak banyak yang bisa mengingatkan bahwa kita bisa jadi penolong bagi orang lain. Enggak perlu harus kaya dulu, kuat dulu atau berkuasa dahulu. Kuncinya cuma satu aja kok. Jangan sia-siakan kesempatan berbuat baik.

Gimana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s