Tidak Ada Asuransi Untuk Pahlawan

image

Hari ini aku menyadari sejelas-jelasnya bahwa tidak ada satupun posisi yang aman bagi setiap orang di dunia ini. Seorang yang punya jabatan suatu hari akan kehilangan jabatannya entah karena pensiun, dipecat atau dianggap sudah tidak menguntungkan lagi untuk lembaga ia bekerja. Seseorang yang punya kuasa mungkin suatu saat akan menemukan ia tidak ada apa-apanya bahwa di atas langit masih ada langit. Seseorang yang begitu kaya dalam semalam bisa saja bangkrut dan kehilangan seluruh hartanya. Seseorang yang dipuja bisa saja kehilangan pesonanya. Seorang pecinta bisa saja kehilangan kekasihnya. Pokoknya apa saja bisa terjadi dan enggak ada yang bisa menebak atau menolak hal-hal seperti ini terjadi.

Loh, memang tidak ada yang abadikan didunia ini? Satu-satunya yang pasti hanyalah waktu dan ia tidak pernah bergerak mundur. Lalu bagaimanakah kita bila suatu saat berada diposisi paling nadir?

Ada beberapa momen terendah dalam hidupku. Saat sedih, saat kehilangan, saat putus cinta, saat tidak punya uang padahal sangat butuh sekali, saat lapar sementara tidak ada makanan dan kiriman uang baru datang beberapa hari lagi, saat sangat malu, saat tidak punya kerjaan, saat diperlakukan tidak adil. Ada banyak sekali momen dimana aku merasa ini sudah yang paling buruk sehingga kupikir tidak akan ada yang lebih parah dari ini namun ternyata salah. Akan ada saat-saat yang jauh lebih menyedihkan.

Ok, sampai disini ada yang mau nampar penulis? Sudah jarang posting tulisan, sekalinya ada ceritanya suram melulu terus kapan mau kawinnya kalau begini.

Karena kita bukan Hulk, yang makin dipukul makin gede dan makin kuat. Bukan juga Deadpool yang walaupun babak belur pasti bisa sembuh. Kita cuma manusia, biasa pula. Yang berada di tingkat rendah rantai sosial. Yang cuma makan gaji dan masih disuruh-suruh majikan. Ibaratnya rantai makanan, kita bukan predator tapi cuma remah-remah upil buaya. Bukan apa-apa dan tak mempunyai arti. Sehingga bila tidak ada kita, dunia tidak akan kehilangan apapun dan tetap berjalan seperti biasa (sorry, aku bukan penggemar butterfly effect).

Yang bisa aku janjikan adalah semoga setelah membaca tulisan ini, suram tidak hilang serta murungmu bertambah dalam. Dan mungkin kau perlu asuransi jiwa yang benar-benar jiwa ya bukannya nyawa.

Minggu yang berat untuk Dek Sonya Dipari Sembiring dan Keluarga

image

Beberapa hari ini mungkin gak ada satu orang pun yang mau menjadi ataupun berada dalam posisi Sonya Dipari, siswi SMU Methodist 1 Medan. Gara-gara ulah arogan dan tidak sopannya saat ditilang Ibu Polwan, video ia yang mengancam dan mengaku anak jendral, beredar luas dan mendapat kecaman keras dari netizen.

Hal ini tentu bukan sebuah prestasi yang membanggakan dan pasti menjadi pukulan berat bagi keluarga, melihat wajah Sonya dalam siaran berita yang disiarkan beberapa TV nasional Indonesia. Apalagi setelah ada bantahan yang dikonfirmasi langsung dari Jendral Arman Depari. Yang menyatakan bahwa ia tidak pernah memiliki putri dan semua anaknya berada di Jakarta. Sayangnya langkah Jendral Arman Depari Sembiring ini berakibat buruk.

Saya nggak bilang sang Jendral salah, beliau tidak melakukan kesalahan hanya saja kurang bijaksana. Mungkin banyak pertimbangan beliau untuk mengakui bahwa gadis dalam video ini walaupun sudah bersikap tidak benar adalah benar keluarganya. Baru setelah jumat (07/04/2016) ayah kandung Sonya Makmur Sembiring meninggal karena serangan stroke. Beliau mengakui bahwa Sonya memang adalah anak saudaranya (keponakan).

Tetapi apa lacur, gadis SMU berwajah cantik ini sudah dibully habis-habisan di media sosial dan mungkin saja karena tidak sanggup melihat berita tentang putrinya, sang ayah mengalami shock dan langsung kolaps. Sungguh satu kehilangan besar bagi Sonya dan keluarganya. Kejadian ini merupakan pengalaman pahit yang tidak akan mudah dilupakan dan bernilai mahal bagi gadis muda ini. Serta kedepannya akan jauh lebih sulit untuknya tapi bukan ia tidak belajar. Ia harus mengambil pelajaran dari kejadian ini dan tentu saja meneruskan hidup.

Sudah sewajarnya kalau dek Sonya mengalami trauma atas kesalahan yang ia pernah buat. Saya sih gak mau munafik dan mengakui bahwa sudah menjadi kebiasaan buruk di wilayah Sumut kalau tertangkap razia kendaraan banyak diantara orang yang mempunyai keluarga dengan latar belakang militer (baik Polisi atau Tentara), pasti membawa-bawa nama keluarganya supaya urusan bisa mudah. Siapapun itu dan enggak mesti pangkat jendral juga. Perilaku seperti ini sebenarnya sudah membudaya dilapisan masyarakat kita meski bukan sebuah contoh yang baik.

Jadi menurut saya Sonya tidak sepenuhnya bersalah. Jendral Arman Depari tidak sepenuhnya benar dan yang terakhir, kita sebagai netizen juga ikut bertanggung jawab. Semoga bapak Makmur Sembiring bisa beristirahat dengan tenang dan keluarga yang ditinggalkan tabah serta ikhlas. Nasihat buat dek Sonya, maafkan diri kamu sendiri. Dan kuatlah menjalani hidup. Kamu masih muda, bisa belajar dan banyak sekali kesempatan yang bisa kamu miliki. Kamu pun berhak untuk hidup berbahagia. Amin.

Note : kenapa pakai gambar es krim? Oh cuma mau pamer aja (itu dibeliin bos pas abis makan siang). Supaya bisa mengademkan pikiran panas jiwa-jiwa yang kurang piknik dan kasih sayang aja. Peace.

Kau Tidak Berhak Menanyakan Kabarku Lagi

image

Jangan muncul.
Jangan datang padaku.
Jangan mencariku.
Jangan mencoba bicara meskipun hanya menyapa.
Kau tidak berhak menanyakan kabarku, sudah lama kehilangan alasan untuk itu.
Sungguh, ini bukanlah kemarahanku, bukan pula cara membalasmu.
Hanya upaya egoisku, menyelamatkan apa yang tersisa dari apa-apa yang masih ada setelah pernah luluh lantak olehmu.

Jadi, pergilah. Menghilang saja seolah kau tak pernah ada. Sehingga tak perlu ada perpisahan yang semestinya. Tak usah.

(Inspirasi : Tahu Diri – Maudy Ayunda)