Levelnya CUMA SEGITU DOANG

image

Pindah itu harus ke tempat yang lebih baik, sama kayak move-on. Harusnya pasangan selanjutnya ya lebih baik daripada yang sebelumnya. Kalau malah lebih enggak karuan, situ yakin matanya gak rabun?

Jadi ceritanya aku pindahan rumah, lagi. Setelah setahun tinggal di kompleks G, terpaksa keluar dari rumah sewa gara-gara gak nyaman lagi dengan teman serumah. Bukan masalah besar sih, cuma tipikal orang modal badan gede, omong kosong dan hidup yang kacau. Saya malah antara kasian dan lucu setelah diamuk-amuknya, disms maki-maki. Such a big fat loser, pfff…..!

Bukannya rasis sama orang gemuk. Mamaku panggilan kesayangannya Gendut. Babi kecilku badannya juga paling gede diantara dua abang laki-lakinya yang langsing-langsing. Babi kecil nomor satu, hanya difoto aja keliatan langsing. So, aku gak anti sama orang gendut.

Cuma kalo liat kelakuan yang dulu pernah serumah, delusional banget. Playing victim terus. Siapa yang salah, siapa yang yang bikin ulah. Gak konsisten. Kadang ninggi sok bisa beli harga diri orang, dua hari kemudian ngemis-ngemis minta duit dikembalikan, sampai akhirnya marah-marah sambil bawa seisi kebun binatang plus ngatain orang lesbian. Dan aku tetap gak mau kasih apa yang dia mau.

Yeah, dia bisa aja tipu kakak dan ibunya juta-jutaan pakai acara ngancem bunuh diri. Tapi aku gak akan kemakan gertakan sambalnya, ngancem ini itu cuma karena uang 350.000 yang katanya adalah haknya. Dimana-mana namanya uang sewa kalau sudah dibayarkan ya hangus kalau  keluar rumah sebelum waktunya, gak ada istilah refund. Lagian kenapa minta ganti uang kepada sesama penyewa dalam satu rumah. Karena tau kalau minta sama pemilik rumah, bakal diketawain. Lu pikir ini main rumah-rumahan?

Haha.

Hidup kok sukanya bikin masalah. Semakin kamu kasari, semakin kamu gak sopan, semakin kamu fitnah orang lain dengan tuduhan-tuduhan menjijikkan. Semakin jelaslah bahwa kamu memang levelnya CUMA SEGITU DOANG. Hehehe…

Aku gak butuh pujian dari orang lain, pun hinaan kamu. Memang aku tulang punggung keluarga, memang aku kerja keras cari nafkah yang halal. Setidaknya uang yang aku dapat dan berikan kekeluargaku, bukan dari kantong kamu toh. Jadi kalau gak pernah diposisi saya, jangan sok seksi deh babi guling sambal tuk-tuk.

Pecundang ya memang begitu. Selalu merasa dirinya yang paling menderita, paling berhak, paling bener, dunia ini enggak adil tapi males bersungguh-sungguh. Gak mau kerja keras dan mau dapat enaknya aja. Dan masih mikir dirinya pantes mendapatkan apa-apa yang orang lain sudah mati-matian perjuangkan.

Vaya con dios, upil monyet pantat merah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s