Ketika singgah lagi

Mengenangmu tidak lagi menyakitkan.

Ternyata perlu waktu yang lama untuk berdamai dengan ingatan-ingatan yang tersisa, memudarkan luka yang pernah memeluk begitu dalam. Tapi hidup tetap berlanjut meski dalam keadaan tidak siap, hidup tetap menjadi pilihan yang tak terbantahkan. 

Semoga kelak jika kau memutuskan untuk singgah lagi padaku, tolong jangan bawa-bawa kebodohan dan salah yang sama.

izinkanlah aku patah sekali lagi

Mungkin hati-hati yang berserakan di kakimu adalah saksi bahwa kau tak bisa mencintai siapa-siapa atau bisa saja artinya, kau hanya mencintai dirimu sendiri hingga tidak ingin berbagi dengan tak seorangpun. Dan aku adalah seseorang yang kau patahkan berkali-kali hingga aku lupa ini darah atau nanah, yang mengalir bersama air mata. Tapi tolong, izinkanlah aku untuk patah lalu remuk redam di kakimu sekali lagi. Karena kalau kau yang tak bisa mencinta maka aku adalah orang yang masih belum tau bagaimana cara memeluk kegagalan ini.

Selalu

Bersenang-senanglah selagi masih sempat karena kita tidak akan tau kapan kesedihan akan datang atau bagaimana cara menghindarinya. Sementara satu-satunya yang pasti hanyalah waktu yang sayangnya tak kita miliki dengan banyak, karena tiap detik adalah berharga. Genggam erat ia yang saat ini disisimu, peluklah apa-apa yang kau cintai seolah kesempatan terakhirmu. Dan bisikkanlah cinta dan kerinduan pada mereka yang bersetia padamu, selalu.

Rumitnya niat dan usaha 

Dulu kupikir, jatuh cinta adalah perkara mudah. Kau cukup menemukan seseorang yang menarik perhatianmu dan fokus padanya, voila… tau-tau ia sudah dalam hatimu saja.

Tapi itu enggak benar.

Jatuh cinta adalah perkara rumit, dikatakan oleh seseorang yang sudah jomblo selama 6 tahun. Yang kalau diibaratkan usia seorang anak, kira-kira dari bayi sampai masuk sekolah dasar. Buset… ternyata udah selama itu sendirian, sementara sikawan udah beranak bahkan anaknya sudah mulai besar.

Dan kau masih saja sendiri, belum mencoba lagi meski waktu sudah jauh melaluimu.

Move-on, yon. Bukan cuma niat tapi usahain juga.

Harusnya

Saat pertamaku melihatmu, aku tidak pernah berpikir bahwa kau akan jadi segalaku, bahagia dan juga malam-malam sendiriku yang pedih. Kamu duniaku, semesta yang menaungi.

Aku nggak tau apa yang selanjutnya terjadi, aku kehilanganmu. Entah kau yang memilih pergi atau akulah yang mendorongmu hingga menjauh. Kau tinggalkan aku.

Aku bertanya-tanya, dimana salahku? Apa ada hal yang kulakukan tanpa kusadari membuatmu marah hingga membenciku? Atau bisakah perasaan raib begitu saja, kau sudah tak menginginkan kita lagi?

Lama aku terpaku, menyesali, mencari-cari kemungkinan yang tak akan pernah ada. Kamu melaju. Hidupmu baik-baik saja bahkan sudah menemukan orang lain dengan mudahnya.

Aku cemburu. 

Gampang saja bagimu, menggantikanku sementara aku masih berpijak pada masa itu.

Aku menyesal. Bukan karena kita berakhir begini tapi lebih pada banyak hal yang belum kulakukan, kukatakan serta tunjukkan untukmu. Aku belum sungguh-sungguh dalam segala hal. Harusnya kukatakan betapa kau, tanpamu aku. 

Lalu bagaimana kini aku, bisakah aku?

Footnote : inspire by Maudy Ayunda, Davichi, Katy Perry.