Surat untuk Tante Moken, Indonesia 04 November 2016

images.jpeg
Dear Tante,

Apa kabar? Semoga Tante, Om dan keluarga dalam keadaan sehat.
saya jarang nulis sekarang Tan, sibuk kerja sampai gak punya waktu buat mikir (alasan saja, dasarnya emang pemalas). Hehehe bisa ngeles.
Kemarin, 04 Nov 2016 adalah hari berat Tan. bukan buat orang-orang di Jakarta, bukan hanya kaum minoritas tetapi yang berasal dari mayoritas seperti saya pun merasakan sesak ini. kegelisahan melihat betapa rapuhnya kemanusiaan di tunggangi oleh hal-hal yang katanya ‘MEMBELA AGAMA”.
Saya jadi bertanya mengapa kaum saya begitu merasa tidak aman/insecure? padahal mereka mayoritas? orang-orang mereka yang menguasai seluruh sendi-sendi kehidupan di Indonesia ini, kok mereka segitu takutnya? ini umat ini kaum apa sih, apa-apa kok takut lalu bagaimana kaum minoritas, suku-suku, penganut agama lain? apa dan bagaimana yang telah mereka hadapi dan rasakan selama ini, saya yakin jauh lebih tidak nyaman dari yang kaum mayoritas rasakan saat ini.
Poor people. saya gak bisa marah dengan mereka Tan.
bukan agama yang salah, bukan islam atau kristen atau budha.
mereka hanya gak pinter sedikit.
gak pinter karena segitu sensitifnya.
gak pinter karena mudah saja diprovokasi oleh hal yang belum tentu benar.
gak pinter karena malah ngecilin kekuatannya Tuhan
gak pinter karena gak bisa melihat gambaran yang jauh lebih luas.
ini bukan masalah agama Tan.
ini masalahnya karena Ahok cina dan dia non muslim.
ini masalahnya mau goyang jakarta, mau bikin rusuh kayak tahun 1998, mau GULINGKAN JOKOWI.
tapi orang-orang gak liat ini.
kenapa?
karena dibungkus masalah agama, agama paling besar dijagad ini, ISLAM.
Aku malu Tan, marah dan terutama sedih.
Aku minta maaf atas nama kaumku.
Advertisements

Kita Sudah Lama Tidak Bercinta

Minggu ini saya bangkrut (biasanya juga sih), kena batuk pilek, kerjaan lumayan numpuk akibat cuti, drama korea yang diikuti ternyata bad ending, sby masih juga caper kayak mantan saya yang meski udah nikah tapi masih belum mup on dan tentang keresahan kawan-kawan tionghoa, ahok dan demo 4 november. 

Halah, duniaku ini loh.

Jadi minggu kemarin saya cuti dan pulang kampung, ketemu ibu yang paling penting, lainnya cuma selintasan gak berarti. Wajar kalau bulan ini gaji lebih cepat habisnya, pokoknya gitu deh detilnya males untuk diungkap. Malu. Toh gaji tak seberapa eh, kesannya kok gak bersyukur? Tapi bos baru kasih kesempatan untuk ngambil lembur kalau-kalau kerjaan banyak (makasih bos baru yang gak mau dipanggil bos, maunya dipanggil oom). So, tadi aku lembur dan nyampai rumah jam 8 malam berhubung agak sakit, rencananya mau ke klinik eh ternyata dokternya udah pulang. Klinik buka 24 jam, my ass. Buat apa buka kalo mau berobat dokternya enggak adakan? 

Oh ya, beberapa bulan ini aku ngikutin drama moon lover. Biasalah tipikal tokoh utama favoritku kan yang dingin-tajem-dan tukang kontrol (pake R ya!). Udah dibela-belain nonton 2 kali seminggu, donlot, simpan eh endingnya sedih. So kampret banget, masa udah udah susah payah penuh perjuangan darah dan air mata gak pakai kentut (catet pake huruf U ya bukan O) sepasang tokoh utamanya malah putus dan pisah, salah paham sampai salah satunya mati. Ini gak bener, ini kampret sekali. Kalau dalam film aja akhir bahagia itu enggak ada, gimana dengan dunia nyata? Gimana dengan jomblo usia 31 tahun yang udah hampir 7 tahun gak punya pasangan? Ya Alloh, kejam banget film makernya. Gak mikit efeknya kekita-kita? Memupuskan semua harapan yang tidak tersisa.

Ok. Lupain soal drama. Di Indonesia ada drama politik yang lebih seru dibandingkan ngeliat King Gwangjoong kehilangan satu-satunya perempuan yang ia cintai. Ada cina gila yang berani jadi pejabat publik dan kerjanya tak dapat dipungkiri bagus (cuma orang tolol yang gak bisa liat hasil kerja ahok ya, cuma orang tolol dan orang yang mungkin punya kepentingan selangkangan sendiri). Terus ada mantan mentri yang tadinya aku sempat respek karena concernnya dibidang pendidikan tapi ada tapinya semuanya hangus karena ketidaksabarannya. Kenapa aku bilang tidak sabar? Ok. Ambisius itu boleh aja, punya harapan dan impian selangit juga gak salah tetapi cara-cara mencapainya ini yang jadi masalah. Lewat jalan mana dulu? Karena aku orang yang percaya kadang proses jauh lebih penting daripada hasil akhir.

Bullshit lah itu kata bang pandji merampok kapal bajak laut, yang ada aku melihat keserakahan yang menghalalkan segala cara termasuk yang tak baik. Semakin kemari semakin blunder saja, bukan adu visi misi malah nyari-nyari kesalahan petahana. Sama kayak hasil konvensi partai demokrat, aku kok punya keyakinan pak anies gak bakal menang dalam pilkada DKI apalagi dengan tandem uno dan (so sorry nih) Mr. Prabs and the gang behind him. Sudah rusaklah citra pak anies yang lumayan bersih, kalau begini cara-cara yang ia pilih (mau bekerja sama dengan pihak-pihak semacam fadli zon, fahri hamzah, fpi, pekaes, jonru dan dia-yang-namanya-tak-perlu-disebutkan-tapi-kalian-pasti-tau-karena-hanya-kalah-2%-untuk-jadi-presiden) kesempatan untuk dipercaya jadi orang nomor satu dinegara ini, kok aku enggak bakalan rela ya. Ah sayang sekali pak anies terlalu terburu-buru, tidak mau nunggu kesempatan dan jalan yang jauh lebih baik dari pada masuk GANG hambalang.

Terus ada pak beye yang dalam masa pensiunnya tampak jauh lebih sibuk jadi negarawan dibanding saat masih jadi orang nomor satu. Bayangin aja selama 10 tahun jadi presiden, beliau bisa menciptakan 5 album lagu sampai masuk rekor MURI. Sungguh sangat hebat, bravo, ngebayangin beliau disela-sela bencana tsunami aceh, lumpur lapindo dan sinabung, getitaran genjreng-genjreng cari nada. Lah kini, sudah 2 tahun santai 1 buah single lagu pun tiada tercipta. Beliau sibuk keliling jawa, ketemu netizen, curhat via konferensi pers (ya tuhan, hobi kok curhat playing victim) dan majuin anaknya untuk jadi gubernur. Ah pak beye, anda lebih baik main-main sama cucu dan bikin album lagi daripada sibuk kembali berpolitik, kan anda sudah tau busuk-busuknya gimana. Karena terus terang, saya tuh penikmat musik kecuali k*ngenband aja, kok saya sama sekali gak notice 1biji pun lagu yang anda ciptakan? Ada apa ini? Apa semesta terlalu hebat menghalangi telinga saya untuk menikmati karya anda? Saya yang kurang update atau lagu anda yang memang gak populer. Saya gak bilang gak populer bukan berarti sampah loh tapi mungkin, masa udah dinyanyiin penyanyi sekelas judika dan afgan masih gak booming juga. Yang salah bukan anda pak juga bukan penyanyinya, saya yang salah. Saya udah kelamaan jomblo, haus hubungan berkualitas dengan lain gender dan kekurangan hormon karena gak bisa bercinta. Maafkeun.

Footnote: ditulis dalam pengaruh obat flu yang mengandung amphetamin dan playlist full melow-ballad.