Kita Sudah Lama Tidak Bercinta

Minggu ini saya bangkrut (biasanya juga sih), kena batuk pilek, kerjaan lumayan numpuk akibat cuti, drama korea yang diikuti ternyata bad ending, sby masih juga caper kayak mantan saya yang meski udah nikah tapi masih belum mup on dan tentang keresahan kawan-kawan tionghoa, ahok dan demo 4 november. 

Halah, duniaku ini loh.

Jadi minggu kemarin saya cuti dan pulang kampung, ketemu ibu yang paling penting, lainnya cuma selintasan gak berarti. Wajar kalau bulan ini gaji lebih cepat habisnya, pokoknya gitu deh detilnya males untuk diungkap. Malu. Toh gaji tak seberapa eh, kesannya kok gak bersyukur? Tapi bos baru kasih kesempatan untuk ngambil lembur kalau-kalau kerjaan banyak (makasih bos baru yang gak mau dipanggil bos, maunya dipanggil oom). So, tadi aku lembur dan nyampai rumah jam 8 malam berhubung agak sakit, rencananya mau ke klinik eh ternyata dokternya udah pulang. Klinik buka 24 jam, my ass. Buat apa buka kalo mau berobat dokternya enggak adakan? 

Oh ya, beberapa bulan ini aku ngikutin drama moon lover. Biasalah tipikal tokoh utama favoritku kan yang dingin-tajem-dan tukang kontrol (pake R ya!). Udah dibela-belain nonton 2 kali seminggu, donlot, simpan eh endingnya sedih. So kampret banget, masa udah udah susah payah penuh perjuangan darah dan air mata gak pakai kentut (catet pake huruf U ya bukan O) sepasang tokoh utamanya malah putus dan pisah, salah paham sampai salah satunya mati. Ini gak bener, ini kampret sekali. Kalau dalam film aja akhir bahagia itu enggak ada, gimana dengan dunia nyata? Gimana dengan jomblo usia 31 tahun yang udah hampir 7 tahun gak punya pasangan? Ya Alloh, kejam banget film makernya. Gak mikit efeknya kekita-kita? Memupuskan semua harapan yang tidak tersisa.

Ok. Lupain soal drama. Di Indonesia ada drama politik yang lebih seru dibandingkan ngeliat King Gwangjoong kehilangan satu-satunya perempuan yang ia cintai. Ada cina gila yang berani jadi pejabat publik dan kerjanya tak dapat dipungkiri bagus (cuma orang tolol yang gak bisa liat hasil kerja ahok ya, cuma orang tolol dan orang yang mungkin punya kepentingan selangkangan sendiri). Terus ada mantan mentri yang tadinya aku sempat respek karena concernnya dibidang pendidikan tapi ada tapinya semuanya hangus karena ketidaksabarannya. Kenapa aku bilang tidak sabar? Ok. Ambisius itu boleh aja, punya harapan dan impian selangit juga gak salah tetapi cara-cara mencapainya ini yang jadi masalah. Lewat jalan mana dulu? Karena aku orang yang percaya kadang proses jauh lebih penting daripada hasil akhir.

Bullshit lah itu kata bang pandji merampok kapal bajak laut, yang ada aku melihat keserakahan yang menghalalkan segala cara termasuk yang tak baik. Semakin kemari semakin blunder saja, bukan adu visi misi malah nyari-nyari kesalahan petahana. Sama kayak hasil konvensi partai demokrat, aku kok punya keyakinan pak anies gak bakal menang dalam pilkada DKI apalagi dengan tandem uno dan (so sorry nih) Mr. Prabs and the gang behind him. Sudah rusaklah citra pak anies yang lumayan bersih, kalau begini cara-cara yang ia pilih (mau bekerja sama dengan pihak-pihak semacam fadli zon, fahri hamzah, fpi, pekaes, jonru dan dia-yang-namanya-tak-perlu-disebutkan-tapi-kalian-pasti-tau-karena-hanya-kalah-2%-untuk-jadi-presiden) kesempatan untuk dipercaya jadi orang nomor satu dinegara ini, kok aku enggak bakalan rela ya. Ah sayang sekali pak anies terlalu terburu-buru, tidak mau nunggu kesempatan dan jalan yang jauh lebih baik dari pada masuk GANG hambalang.

Terus ada pak beye yang dalam masa pensiunnya tampak jauh lebih sibuk jadi negarawan dibanding saat masih jadi orang nomor satu. Bayangin aja selama 10 tahun jadi presiden, beliau bisa menciptakan 5 album lagu sampai masuk rekor MURI. Sungguh sangat hebat, bravo, ngebayangin beliau disela-sela bencana tsunami aceh, lumpur lapindo dan sinabung, getitaran genjreng-genjreng cari nada. Lah kini, sudah 2 tahun santai 1 buah single lagu pun tiada tercipta. Beliau sibuk keliling jawa, ketemu netizen, curhat via konferensi pers (ya tuhan, hobi kok curhat playing victim) dan majuin anaknya untuk jadi gubernur. Ah pak beye, anda lebih baik main-main sama cucu dan bikin album lagi daripada sibuk kembali berpolitik, kan anda sudah tau busuk-busuknya gimana. Karena terus terang, saya tuh penikmat musik kecuali k*ngenband aja, kok saya sama sekali gak notice 1biji pun lagu yang anda ciptakan? Ada apa ini? Apa semesta terlalu hebat menghalangi telinga saya untuk menikmati karya anda? Saya yang kurang update atau lagu anda yang memang gak populer. Saya gak bilang gak populer bukan berarti sampah loh tapi mungkin, masa udah dinyanyiin penyanyi sekelas judika dan afgan masih gak booming juga. Yang salah bukan anda pak juga bukan penyanyinya, saya yang salah. Saya udah kelamaan jomblo, haus hubungan berkualitas dengan lain gender dan kekurangan hormon karena gak bisa bercinta. Maafkeun.

Footnote: ditulis dalam pengaruh obat flu yang mengandung amphetamin dan playlist full melow-ballad.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s