Tentang Rumah

Sebagai perantau sejak lulus SMU, aku sudah terbiasa hidup sendiri jauh dari rumah. Sudah terdidik untuk menjaga diri dan menyelesaikan masalah-masalah sendiri. Dan orang tua, terutama papa, percaya benar dengan kemampuanku untuk nggak bertindak macem-macem. Beliau haqul yakin kalo anak perawannya tidak akan pernah mengecewakannya. So far sih gitu.

Lalu setelah papa enggak ada lagi, di dunia ini yang disebut rumah bagiku adalah ibu. Nyokap. Cuma tersisa satu dan aku selalu saja merasa kurang cukup bisa membahagiakannya. Nyokap nangis waktu aku bilang seperti itu, buatnya apa yang aku lakukan udah lebih dari cukup. For her, i give my all. Everything. Buat kalian yang masih hidup dengan orang tua, kalian diberkati. Sementara kami-kami ini cuma bisa mengandalkan telefon dan video call atau mudik setahun sekali untuk meluk nyokap. Kalian bisa makan masakan nyokap setiap saat, dicerewetin, diajak kondangan atau diseret ke pasar untuk nenteng belanjaan dan bayarin sekalian. Percaya deh, kalian tetap lebih beruntung kok.

 

Nyokapku udah tua. Saat aku melihat kerutan diwajahnya atau uban dirambutnya, aku berdoa dengan egois, semoga aku mati muda sehingga tak perlulah merasakan kehilangan ‘rumahku’ ini. Sudah cukup aku pernah kehilangan satu-satunya kamus bahasa inggris berjalan, pemain gitar band belakang rumah, gudang buku, pencerita hebat, penggemar berat Beatless, tertuduh utama yang mencekoki aliran musik rock klasik.
Bokap boleh jadi cinta pertamaku yang enggak mati-mati tapi nyokap adalah semuanya, semuanya yang ada dihidupku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s