Perempuan dan pilihan untuk menikah ataupun tidak


Tidak semua perempuan memilih menikah dan berkeluarga sebagai tujuan hidup. Ada (banyak) perempuan yang ingin mendedikasikan hidupnya untuk hal-hal diluar itu seperti karir, hasrat akan haus ilmu pengetahuan dan lain-lain. Tetapi tentu ada juga yang ambisius, bisa menyeimbangkan keluarga dan karir walaupun pasti enggak mudah ya, ibu-ibu.
Yang jadi masalah adalah stigma dimasyarakat, perempuan dewasa usia 25 tahun keatas yang punya karir atau pendidikan tinggi tapi belum menikah, itu kok ya dianggap hal yang memalukan. Seolah-olah apapun pencapaian tertinggi seorang perempuan kalau pada akhirnya ndak punya suami dan anak, belumlah berprestasi. Percuma kalau anak perempuanmu menemukan obat penyembuh HIV Aids kalau masih jomblo ndak laku. Buat apa mendapat hadiah Nobel perdamaian kalau gak punya suami buat dibawa ke reuni sekolah atau arisan keluarga besar. Apa hebatnya kamu menjadi presiden direktur F1 atau ketua dewan klub Real Madrid kalau gak punya keturunan. Bla bla bla…. dan seterusnya. Ada saja hal yang dicari sebagai kekurangan sehingga perempuan sehebat apapun, enggak akan pernah bisa melebihi  (prestasi) laki-laki. Jangan kan melebihi, dianggap sebanding saja masih jarang. 
Yang lebih menyedihkan adalah kadang yang mengecilkan pencapaian-pencapaian ini bukan hanya laki-laki yang minder sama perempuan mandiri dan cerdas, kaum perempuannya sendiri juga berpikiran kolot terhadap perempuan lain yang menganggap pernikahan, keluarga dan anak adalah hal utama dalam tujuan hidup seorang perempuan. Kembali ke ide awal bahwa prioritas setiap orang kan berbeda-beda. Ada yang life goalnya pengen jadi ibu diusia muda, ya silakan. Ada yang pengen jadi profesor filsafat sekaligus penyanyi jazz, Monggo aja. Pengen jadi WAG’S atau relawan UNHCR, sip 2 jempol. Yang pentingkan jangan bercita-cita untuk merebut pasangan atau suami orang lain, ya kalau tetep mau begitu siap-siap aja digempur warganet Indonesia yang terkenal kejam-kejam.
Hmmm kalau aku sih cuma ingin hidup tenang dan aman dengan atau tidak ada orang di sisiku, yang pentingkan gak menyusahkan orang lain. Aku mandiri dan bisa mengurus diriku sendiri dengan baik, nyisihin separuh gaji untuk nyokap tiap bulannya. Dan kalau menurut kalian itu belum membuatku layak sebagai manusia, aku bisa apa coba? Itu sih Masalah kalian, bukan masalah ku. Hehehe. 

Advertisements