aku mencintaimu sepenuh nafsu, menginginkanmu untuk kumiliki sampai mati

image

Aku tau ini jahat. Dan tidak bangga akan hal ini.

Melihat kedukaanmu sebagai celah bagiku untuk masuk dalam hidupmu lagi.

Rendah sekali, bukan?

Tapi… mau bagaimana?

Aku tidak bisa melihat jalan lainnya. Setelah sekian lama, setelah begitu banyak hal yang terjadi dalam masing-masing kehidupan kita, maaf… kalau aku masih menyimpan asa tentang kau, tentang kita.

Api ini belum padam, sayangku. Begitu juga dengan rindu yang meresap dalam tiap-tiap kuncup doa yang kulayangkan ke langit.

Cukuplah, aku hanya bisa menjadi penonton dalam lakon hidupmu bertahun ini. Berpura-pura menjadi orang bijak yang kau percayai ucapannya.

Dan ketika dia lengah akan dirimu, maka jangan menangis bila kurampas engkau dengan tidak tiba-tiba. Karnaku sudah mengawasi sejak lama, menunggu-tunggu dengan degup meletup didada.

Kini aku sudah sampai pada tepian yang kuyakini pasti, bahwa berlaku diam tidak akan pernah bisa memuaskan hasrat terdalamku, yaitu kamu. Milikku.

Menjadi milikku. Lagi. Sampai salah satu diantara kita mati. Bila itu terjadi padaku lebih dahulu, aku bersyukur tidak pernah kehilanganmu. Dan bila kau yang lebih cepat maka kau beruntung karena aku sudah teruji bersabar mencari cara agar bisa disisimu sekali lagi.

Enggak Usah Sok Asyik

image

Baru saja selesai nonton Avengers : age of ultron, sendirian. Kesannya cuma satu, film bagus. Bagi penggemar komik pahlawan Marvel wajib ditonton dengan atau tanpa teman, udah gitu aja. Tapi disini aku bukan mau review film kok. Aku yakin yang lain udah banyak mengulas film ini.

Ok. Kita kembali ke beberapa hari lalu saat aku chatting dengan seorang kenalan lama. Awalnya sih basa-basi ngobrol. Yang enggak enak adalah ujung-ujungnya dinasehati supaya cepat menikah. Jangan terlalu memilih. Bla…bla…bla!

Aku pada akhirnya cuma bisa mesem.

Cuma Tuhan yang tau apa-apa yang ada dibenak umatnya baik yang tersurat maupun tersirat. Dan seriusan, enggak pernah loh ada niat untuk menunda, ya tapi kalo jodohnya belum dateng mau dijemput kemana? Emang ada yang tau?

Kadang-kadang aku pikir, apa mengganggu banget ya status single perempuan usia 30 tahun keatas. Aku gak minta biaya in hidup sama orang lain, gak pernah bikin keributan, gak nyusahin, gak godain pasangan orang lain. Kok masih dianggap ancaman bagi keberlangsungan peradaban dunia sih?

Yang rese siapa?

Yang KEPO urusan pribadi orang lain. Terserah dong maunya apa. Nggak ada yang bisa maksa orang lain untuk gak menggunakan alat kelaminnya kecuali buat pipis. Itu hak dia, suka-sukanya dialah. Siapa elu, coba?

Ok. Udah cukup misuh-misuhnya. Back to the work.

Do you believe in God? Intinya, aku percaya Tuhan. Dan Alloh pasti punya rencana yang indah untuk tiap umatnya. Hanya saja kita tidak tau bagaimana rencananya bekerja. Jadi, we’ll see. Semuanya akan baik-baik aja. Trust God, ok?

LOVE SICK : Jalang dan Brengsek

image

Demi lelaki ini, aku tabah menghadapi dunia dan telah menjadi wanita jahat.

Isyana sudah bangun sejak dua puluh menit yang lalu. Namun seperti kebiasaannya selama ini, ia masih berbaring dengan wajah menatap Hiro Yamada. Pria berwajah tampan dengan rahang kukuh, yang kini tampak biru karena cambang yang belum dicukur.

Wanita berambut sepunggung ini tersenyum sedih. Jari-jari tangan kirinya menyentuh pipi pria tersebut. Sebuah cincin putih dengan mata berlian tunggal, menghias jari manisnya. Namun kilaunya malah mengingatkannya akan harga yang harus ia bayar demi semua ini.

Pria yang kini berada di ranjangnya. Status yang ia miliki. Serta semua kebahagian ini.

Ia mendapatkannya dengan merebut kebahagian wanita lain. Sebuah keluarga terkoyak oleh keberadaannya. Seorang istri dikhianati dan seorang gadis kecil harus kehilangan figur Ayahnya.

Dan disetiap bangun pagi, rasa bersalah itu terus menggerogotinya. Betapa kejam dan egois dirinya, menghancurkan kehidupan orang lain demi kebahagian diri sendiri.

“Maaf. ” bisiknya pelan entah pada siapa.

Ia lalu memajukan wajahnya dan mengecup sekilas pipi prianya.

“I love you. ”

Isyana bangkit dari ranjang. Tubuh langsingnya telanjang, tampak indah dalam siluet cahaya temaram. Ia meraih sebuah gaun longgar yang tergeletak di lantai.

Harinya sudah dimulai dan ia sudah memilih untuk hidup seperti ini. Jadi, ia harus kuat dan bertahan. Isyana tak boleh menunjukkan kelemahannya. Bukan karena ia takut, hanya saja orang-orang lebih mengharapkan ia bersikap tidak tau malu dan kejam. Dan itulah yang selalu ia lakukan.

Menjadi Si Jalang.

*****

Demi wanita ini, aku rela membuang segalanya dan menjadi pria kejam.

Aku menatapnya dalam diam.

Isyana selalu melakukan ritual yang sama setiap pagi. Membuka matanya, menatapku dengan pandangan sedih. Meminta maaf. Menciumku dan menyatakan cintanya. Lalu memulai aktivitasnya.

Sesungguhnya aku tau isi hatinya. Rasa bersalah yang ia tanggung. Juga rasa malu yang mengetuk nuraninya, karena bisa berbahagia diatas penderitaan wanita lain. Dan pergulatan perasaannya itu selalu ia tutupi dari semua orang termasuk diriku.

Tidak ada yang menyadari betapa tidak mudah ia menjalani semua ini. Tidak ada yang mengetahui Isyana sudah berusaha begitu keras untuk menghindari semua kekacauan ini terjadi. Dan akulah yang paling bertanggung jawab.

Dulu aku sudah pernah menikah dan baru saja mempunyai seorang putri yang lucu. Hidupku nyaris sempurna dengan karir yang mapan dan keluarga kecil yang stabil. Namun entah mengapa, jauh di dasar hatiku ada hampa yang mengigit. Yang tidak kutahu alasannya.

Lena, istri pertamaku adalah wanita baik. Ia cantik dan kami sudah bersama selama bertahun-tahun sebelum menikah. Tadinya aku pikir ialah satu-satunya yang kumau seumur hidup tapi aku salah.

Pertama kali aku melihat Isyana, aku terpaku seolah ada sesuatu dalam dirinya yang berbeda. Dan aku tidak tau apa itu. Padahal penampilannya jauh dari kata menarik. Namun ia selalu tampak santai, nyaman dan percaya diri.

Lalu perlahan semakin aku mengenalnya, aku bagai menemukan seseorang seperti diriku namun lebih pintar. Lebih bijaksana dan jauh lebih sabar. Aku belum menyadari bahwa perasaan ini bisa tumbuh melebihi apa yang pernah aku pikirkan.

Isyana sudah mencapai usia 30 tahun (ia lebih tua 3 tahun dariku). Tetapi ia terlalu sibuk dengan pekerjaan yang ia cintai dan tak terbebani status lajangnya. Ia sungguh wanita mandiri yang berbahagia dengan apapun keadaannya.

Tanpa sadar aku mulai membandingkan Lena dengannya. Dan aku merasa tidak puas.

Isteriku pada saat itu tau ada sesuatu yang menggangguku. Namun tidak berpikiran jauh. Ia percaya padaku, percaya pada kapasitasku sebagai aku.

Tetapi aku ternyata adalah lelaki brengsek. Diam-diam dalam persahabatan dengan Isyana, aku hendak melampauinya. Aku cemburu bila ada lelaki yang menggodanya. Aku tidak menyukai saat orang lain membuatnya tersenyum ataupun tertawa. Dan yang paling sadis adalah aku mencuri sebuah ciuman dengannya.

Isyana kaget. Dan ekspresi wajahnya tampak seolah aku telah menamparnya.

Lalu sebuah pemahaman muncul dibenaknya. Dan ia menolak ide ini sekeras mungkin.

Ia berhenti bicara denganku. Menolak bertemu apalagi memandangku. Dan pindah kerja, meskipun sangat menyukai tempat dan pekerjaannya saat itu. Semua itu dilakukannya agar dapat menjauhiku.

Isyana berhasil.

Aku tak dapat mendekatinya lagi. Tapi masalahnya justru dimulai dari sana. Aku sudah menemukan sesuatu dan harus kehilangan sebelum bisa memiliki.

Aku menggila. Aku tak bahagia. Tak bisa menerima keadaan ini.

Dan aku tak bisa kembali ke kehidupan lamaku seperti saat ia belum datang. Perlahan tapi pasti Lena menyadarinya dan itu membuatku tambah frustasi.

Ia bertanya dan terus bertanya hingga membuatku marah. Kami bertengkar bahkan untuk hal-Hal sepele. Lena mencurigaiku, mengkonfrontasi dan memaksaku mengakui sesuatu yang tidak kulakukan. Lagi dan lagi hingga akhirnya aku yang memang tidak dikaruniai kesabaran, meledakan amarah.

Sebenarnya aku sudah berusaha memperbaiki keadaan dan mempertahankan rumah tangga kami. Tetapi wanita yang terluka dan tersesat dalam kemarahannya, mampu melakukan apa saja.

Lena mendatangi Isyana, mempermalukan dan menterornya. Membuatnya menanggung kesalahan yang tak pernah ia buat. Dan aku terlambat mengetahuinya.

Aku mengerti isteriku terluka hatinya, mengetahui ada wanita lain dihati suaminya. Tapi siapa yang bisa mengontrol kemana arah perginya hati? Seberapa keras pun aku mencoba, tidak bisa membuang kenyataan ini.

Ada yang menjadi korban tak bersalah disini dan ini tidak adil baginya. Tetapi dunia tidak melihatnya seperti itu. Ia dicap sebagai wanita penggoda. Perusak rumah tangga.

Aku tidak bisa melihatnya seperti itu. Semakin aku memikirkannya semakin yakin aku untuk memilih bersamanya meskipun tidak mudah. Lalu kuputuskan menjadi Si Brengsek yang meninggalkan keluarga demi wanita lain.

Aku ingin berbahagia dengannya meski itu menyakiti banyak orang, meskipun dunia menyumpahi dan mengutuk kami. Aku sudah tidak peduli.

LOVE SICK : Kutukan Cinta

image

“Apa kamu mencintaiku?” Ia bertanya untuk kesekian kali.

Mata hitam itu menatapku langsung.

Ada banyak keraguan, rasa takut dan bermacam-macam luka dalam sorot bola matanya, yang tidak terungkap. Yang ia tanggung sendirian selama ini.

Dan untuk kesejuta kalinya, aku tidak perlu menjawabnya. Bukan karena aku tidak mau, namun lebih karena aku tak bisa. Cukuplah aku menatapnya dalam-dalam dan meraih tubuh mungil itu pada pelukan.

Ia merebahkan kepala cantik itu pada bahuku. Pasrah juga sedih. Karena tak ada apapun yang dapat ia lakukan untuk membuatku menyatakan cinta padanya. Namun tak setitik air mata pun turun, tidak, gadisku ini tidak lagi menangis.

“Apa kamu akan pergi lagi?” Bisiknya pelan padaku.

“Apa kali ini, aku masih punya kesempatan?” Tambahnya lagi.

Ia mengalungkan lengannya pada leherku dan memeluk lebih erat. Seolah dengan begitu ia dapat bergantung padaku dan aku tidak akan bisa meninggalkannya.

Sejujurnya ini menghancurkan hatiku.

Melihatnya selalu bertanya seperti itu, meragukan perasaanku serta keberadaan dirinya sendiri. Jauh lebih menyakitkan dibandingkan melihat kemarahannya, saat pertama kali aku meninggalkannya dan memilih wanita lain.

Ya, aku pernah mengkhianati gadis ini.

Bianca Le Blanc.

Gadis yatim piatu yang sangat cantik. Tetapi hidupnya sangat malang, sangat tidak beruntung karena bertemu dan terjerat oleh cintaku.

Aku bersalah padanya.

Aku bahkan tak pantas untuk kembali di sisinya. Meski seberapa keras dan sekuat apapun aku meyakinkannya, akan selalu ada tanya dihatinya. Ragu serta takut akibat pilihanku sebelumnya. Tapi apa dayaku? Aku menyadari bahwa aku benar-benar mencintainya. Dan bersedia melakukan apa saja untuk bersamanya lagi.

Maka aku mendapatkan kesempatan itu. Aku kembali padanya dan dicintai lagi olehnya. Namun ada harga yang harus dibayar.

Dia, mengambil semua kemungkinan bahwa aku bisa menyatakan ‘aku mencintai gadis ini’. Hal itu tidak akan pernah bisa dan tidak akan terjadi lagi padaku. Selama-lamanya.

Lalu disinilah aku, berada tepat disampingnya. Memeluknya erat. Memilikinya lagi. Namun tak bisa sekalipun membalas perkataan cintanya.

Dan hukuman apa yang lebih menyakitkan daripada ini?

Seorang kekasih yang tak dapat menyatakan cinta dengan seseorang yang tidak bisa yakin, dirinya dicintai.

LOVE SICK : Rencana Jahat

image

“Katakan sekali lagi. ”

Damon mencengkeram dagu Lily, memaksanya melihat langsung padanya. Raut wajah tampan miliknya tampak dingin dan pelipisnya berkedut menahan emosi.

Gadis itu meski dengan wajah pucat dan sembab bekas menangis sepanjang malam serta rambut pirang kusut, dia masih tampak begitu cantiknya. Dan kini ia balas menatap pada pria di hadapannya, penuh kemarahan.

“Aku tidak mau melihatmu lagi. ” jeritnya frustrasi.

Damon Osorio Silva tersenyum. Ada rona kebahagiaan yang ganjil pada sinar matanya.

Dengan lembut jempol tangannya mengusap bibir Lily. Bibir yang semalaman telah ia bungkam berkali-kali dengan ciuman keras. Dan hingga kini belum puas, ia masih tergoda untuk mengecupnya.

Damon menelan air ludahnya. Menahan diri dari nafsunya yang tiba-tiba membuncah.

“Sepertinya itu tidak mungkin. ” ucapnya tenang.

Ia kembali mengukur reaksi gadis ini. Matanya dengan tajam menatap Lily dan mengintimidasi.

“Aku …. akan melupakan kejadian ini. Seperti tidak pernah ada. ” bisik gadis itu dengan ekspresi terluka yang tak dapat disembunyikan.

“Kau pun harus melupakannya. Anggap saja tak pernah terjadi. ”

Cengkeraman jari-jari Damon mengetat. Kemarahannya kembali memuncak usai mendengar ucapan gadis itu. Dengan kasar ia menarik kain yang membungkus tubuh Lily. Membuat si gadis kembali panik dan ketakutan.

Tidak. ” pintanya dalam hati. “Jangan lagi. ”

Sekuat tenaga ia mempertahankan selimut yang menutupinya. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya, karena ketakutan telah membekukan pita suaranya.

Lily menangis tercekat.

“Aku tidak akan melupakan hari ini. Bagaimana rasanya tubuh kamu, memiliki kamu dibawah kekuasaanku. Mendengar jeritan kamu, permohonan kamu dan tangisan dari mulut lancang ini. ”

Damon kembali menekan jarinya pada bibir bengkak Lily.

Ia tersenyum culas.

“Aku tidak akan lupa. ” bisiknya di telinga gadis itu.

Lalu menyeringai kejam.

“Tidak setiap hari kan ada yang memperkosamu. Dan kupastikan kau tidak akan pernah bisa lupa, Lily Mariana Van Oord. ”

Damon kembali mengancamnya.

“Aku membencimu. ” pekiknya histeris.

Aku tau. ” Damon tersenyum.

“Aku ingin kau mati. ”

Aku juga tau itu. ”

Lily masih menangis dengan suara terisak. Kedua belah pergelangan tangannya masih terikat di kepala ranjang. Tubuhnya bersandar dan ia menekuk kakinya, menutupi dada serta perutnya. Tapi tidak bisa menghalangi dirinya dari Damon.

Kau milik ku. Selamanya. “

“Aku akan memastikan kamu mengandung anakku lalu tidak ada alasan lagi menunda pernikahan. Dan setelah itu, aku tidak akan pernah melepaskan mu. “

Perempuan Berhati Batu

image

“Kamu jangan jatuh cinta sama aku, nanti aku enggak mau tanggung jawab loh. ”

Perempuan itu berucap dengan nada santai namun tampak sangat percaya diri. Ia dengan mata bulat bermanik kelam, melirik tajam penuh rahasia pada lelaki yang duduk di hadapannya. Yang tak dapat menyembunyikan keterkejutan dan sedikit rasa malu, di raut wajah sang lelaki malang tersebut.

“Kok kamu ngomong begitu?” Tanyanya berhati-hati.

Wanita itu tersenyum. Bukan sejenis senyum menenangkan. Ada binar aneh di sudut matanya dan bibirnya membentuk garis nyaris datar. Meremehkan.

Ia mengedikkan bahu, seolah tak peduli. Dan memang ia tidak pernah peduli.

“Cuma berjaga-jaga.” Katanya ringan.

Pria itu menatapnya seksama. Mengamati tingkahnya yang selalu tanpa beban. Lalu ia tertawa sambil menggelengkan kepala.

Terkejut. Tidak percaya. Dan terpukul. Berganti-ganti mengisi ekspresi wajahnya.

“Wah, …….. ”

“Kejam banget kamu. ”

Wanita itu ikut tertawa.

“Boleh dibilang begitu. Tapi sebenarnya aku cuma malas basa-basi.”

Kali ini ia menatap serius pada pria di hadapannya. Seolah mengatakan dengan jelas bahwa ia sama sekali tidak tertarik dengan apapun yang lelaki ini tawarkan padanya kelak.

Dan sang lelaki, egonya terlecut. Antara merasa tertantang dan ditolak mentah-mentah. Tetapi jujur ia menyadari bahwa perempuan di depannya ini, bukan sembarangan. Bukan dari jenis yang bisa dengan mudah digoda dan perdaya oleh rayuan. Dan bukan tipe yang gampang ditaklukkan.

Perempuan ini tahu benar apa yang ia mau. Dan jelas sekali mengerti cara mendapatkan apa yang ia inginkan dengan usahanya sendiri.

Perempuan ini adalah aku.

Surat Untuk Putraku di Masa Depan

Dear John,

Aku menuliskan surat ini diakhir usiaku yang ke 29 tahun.

Kau tau? Dimasa itu, wanita berumur segitu namun belum punya kekasih atau pendamping hidup, akan dianggap sebagai perempuan yang tidak laku atau tidak diinginkan. Meski para wanita tersebut cantik, berpendidikan dan punya karir sangat bagus atau prestasi yang membanggakan. Malah orang-orang akan cenderung mengatakan kegagalannya dalam menemukan pasangan hidup adalah kesalahan perempuan tersebut. Karena mungkin terlalu pemilih atau terlalu mementingkan karirnya.

Aku tidak setuju dengan pendapat itu. Bukan karena hal ini terjadi padaku.

Well, mereka lupa. Betapa jodoh bukan lah dalam kuasa manusia. Kita bisa saja memilih siapa yang kita inginkan, siapa yang kita nikahi tetapi tidak dengan siapa yang kita cintai, siapa yang menginginkan kita, siapa yang tulus dan tidak, serta siapa yang sejatinya menjadi pasangan hidup kita pada akhirnya.

Tidak ada seorang manusia yang menyukai kesepian, john. Tidak seorang pun meski manusia memang ditakdirkan ‘tanpa teman’ saat dilahirkan dan saat dikuburkan bahkan oleh mereka yang lebih memilih sendiri seumur hidupnya. Sendiri bukanlah nama lain dari sepi, kau harus bisa bedakan itu nak.

Tapi Tuhan telah menjanjikan bahwa setiap mahluk hidup selalu diciptakannya selalu berpasang-pasangan. Dan aku mempercayainya john, Tuhan adalah satu-satunya yang tak pernah membohongiku atau pun mengecewakanku.

John, putraku.

Mungkin kau sudah dengar bahwa namamu sama seperti namaku, diambil dari nama kakekmu. Jon Anwar Simanjuntak. Aku ingin menceritakan beberapa hal tentang beliau, yang tidak sempat bertemu denganmu (sedihnya, ia juga tidak sempat melihat aku menikah). Tapi yakinlah, kakekmu pasti menyayangimu dan bangga padamu.

Kakekmu adalah seorang pria cerdas, berkepribadian unik dan punya selera humor yang tinggi (aku berharap kau mendapat warisan gen ini darinya). Ia juga suka menyanyi dan bisa bermain gitar.

Beliau dalam hidup memang tidak sempurna, john. Ia tetap manusia biasa yang pernah melakukan hal salah tetapi aku sangat menyayangi dan menghormati kakekmu. Sudahkah aku bilang bahwa aku adalah putri kebanggaannya?

Salah satu nasihat yang paling aku ingat adalah ia selalu menekankan untuk bersikap jujur meski keadaan sulit dan meski hal ini akan membuat kita terkena masalah.

Aku tidak tau apakah ini pengaruh karena kakekmu adalah mahasiswa filsafat atau mungkin karena ayahnya adalah seorang penegak hukum. Yang jelas papaku mengajarkan kami anak-anaknya untuk bersikap jujur dan mau mengakui serta menerima kesalahan jika itu memang salah.

Dan aku memegang teguh ajaran kakekmu hingga saat ini. Hingga bila aku diminta melakukan white lies pun demi alasan kebaikan, aku sangat kesulitan. Mungkin aku memang tak berbakat menjadi pembohong yang baik.

John, sayangku.

Kakekmu adalah satu-satunya orang, yang mendorongku untuk suka menulis. Beliau semasa hidupnya, dari mulai cinta monyetnya dengan nenekmu hingga usia pernikahan belasan tahun mereka, masih sering menulis surat satu sama lain.

Jangan heran bila kau menemukan puluhan surat cinta mereka di gudang. Itu adalah harta karun nenekmu. Terkadang aku menemukannya sedang membaca lagi surat-surat itu sambil menangis. Dan aku tidak mau mengganggunya. Kematian kakekmu tidak membuat cinta mereka berhenti, john. Aku bisa bersaksi untuk itu.

John,

Aku berdoa dan sangat-sangat berharap, kau tumbuh dengan sehat serta bahagia. Menjadi pemuda yang cerdas, tidak sungkan bekerja keras, dikelilingi para gadis memuji dan memujamu juga para teman yang menghormatimu. Serta tau benar apa yang kau inginkan, bagaimana cara mencapainya namun tetap dekat dengan Tuhan.

Jangan lupa untuk melakukan hal yang benar, sayang. Mungkin akan menjadi pilihan yang sulit tetapi bukan tidak mungkin, bukan?

John, putraku. Aku harap tidak akan pernah lupa untuk mengatakan padamu, aku menyayangimu. Aku sangat bersyukur memilikimu. Dan sangat bangga padamu, siapa pun dirimu dan seperti apa dirimu hingga saat ini.

Tuhan sangat baik padaku, padamu dan pada kita. Jangan pernah meninggalkannya, nak. Jangan melupakannya meski kau sedang marah, terluka atau pun merasa dikhianati dunia.

Jauh di lubuk hatimu kau pasti tau apa yang benar, jadi jangan menangkan iblis dalam dirimu.

Terakhir yang ingin kukatakan john, aku mungkin bukan ibu yang sempurna. Aku pun pernah salah dan mungkin akan salah lagi (aku tidak akan membela diri). Sudahkah kukatakan aku menyayangimu? Bila sudah, tak apa aku mengulanginya lagi.
Aku menyayangimu nak. Hiduplah dengan kepala tegak bukan hanya karena semua bakat dan prestasimu, tetapi juga karena pilihanmu untuk meraih semua keberhasilan atau pun kejatuhan (semoga tidak) dengan tanganmu sendiri dan juga dengan cara-cara yang benar. Tidak perlu malu dengan itu, kau hanya perlu berusaha lagi dan lagi.

Salam sayang.

Ibu.