Email : Indonesia Dalam Seminggu Ini

image

Halo Tante,

Apa kabar? Kemarin sore diperjalanan pulang kerja saya teringat dengan Tante. Semoga Tante dan keluarga selalu sehat ya. Begitu juga saya di Indonesia.

Oh ya, saya mau menceritakan bahwa kami baru saja terkena demam AADC2. Hehehe. Tante tentu ingat sekitar tahun akhir tahun 80an sampai awal 2000, perfilman Indonesia stagnan. Enggak ada film lokal di layar bioskop apalagi yang bagus sampai muncullah sineas muda, Mira Lesmana dan Riri Riza mempersembahkan film Petualangan Sherina yang disambut gembira (serta blockbuster). Kemudian duo sekawan ini menyajikan film remaja yang sangat ikonik, Ada Apa Dengan Cinta? Rangga dan Cinta, pasangan yang akhirnya menginfluence remaja pada masanya untuk tau lebih siapa itu Chairil Anwar. Karena saya yakin saat itu puisi bukanlah hal yang paling keren bagi anak muda.

Saya pribadi sih, sudah dicekoki Papa buku Chairil sejak bisa membaca. Seingat saya ada 2 buku di rumah, Aku Ini Binatang Jalang dan kumpulan suratnya dengan HB. Jasin. Dan sampai sekarang masih hafal mati puisi pertama sang pujangga ini.

Dan film AADC2 ini, sungguh membuat saya tersenyum.
1. Tokoh dengan karakter yang sudah jadi legenda (hingga kini).
Rangga masih dengan wajah dingin dan tatapan menghanyutkan, tak begitu sinis namun tetap dalam pikirannya. Cinta tetaplah cinta, yang menjadi motor penggerak buat teman-temannya. Yang rapuh namun berani untuk memutuskan hal apa yang paling ia inginkan.
2. Jogja sebagai lokasi film yang sempurna. Saya rasa kota ini punya ikatan kuat pada kedua tokoh yang sama-sama pecinta seni. Memangnya ada kota lain di Indonesia yang bisa mengalahkan jogja sebagai daerah paling berbudaya dan gudangnya seni? Saya rasa belum ada. Walau banyak juga yang mengkritik AADC2 sekelas FTV (film televisi) di SCTV atau RCTI, gara-gara jogja juga sering dijadikan lokasi film-film televisi ini. Tapi saya justru merasa jahat kalau mereka bandingkan seperti itu. Ini Dian Sastro loh, bidadari Indonesia yang menjadi pujaan para pria dan menjadi objek kekaguman teladan hingga kecemburuan wanita Indonesia. The most has never been wrong Disas, kalo dia salah kembali kepasal satu. Hehehe…enggaklah. mungkin cuma soal selera aja dan ekspektasi berbeda yang diharapkan yang pada kritik film ini.
3. Aan Mansyur.
Sekitar 2 atau 3 tahun yang lalu saya menemukan akun @hurufkecil miliknya. Akun twitter yang kicauannya membuat saya ingin jatuh dalam pelukan pria yang mahir mengurai kata sepertinya. Dan ketika membaca berita bahwa puisi-puisi Rangga akan ditulis oleh Aan Mansyur, tidak ada yang lebih baik dari ini. Semangat sekali ingin membeli buku puisi Tidak Ada Newyork Hari Ini.

Ok. Cukup dengan cerita filmnya. Ada juga berita sedih Tan. Seorang gadis muda di Bengkulu tewas akibat dirudapaksa oleh belasan laki-laki yang juga masih di bawah umur. Lalu ada kejadian sama di daerah lain sikorban selamat hanya saja tidak dengan kejiwaannya. Ia linglung hingga tak bisa mengenali ibunya sendiri. Sedih sekali.

Saya punya satu adik perempuan dan hati saya cemas karenanya. Bagaimana dengan para ibu ya? Pasti jauh lebih khawatir setelah peristiwa ini.

Maaf ya Tan, email saya kok malah bikin depresi. Semoga Tante tidak kapok membacanya.

Salam Hangat.

Yona

Advertisements

Cara gue nampar diri gue

Cupu itu kalau galau cuma karena hidup lo sepi tanpa kekasih. Sementara orang lain pada ngeributin ada air di planet Mars atau malah Mark Watney jauh-jauh kesana cuma untuk jadi petani kentang atau malah pada akhirnya bercita-cita jadi galaxy pirate. Dan lo masih nganggap hidup lo yang paling miserable?

Ngomong-ngomong, The Martian adalah film bagus yang aku tonton bulan lalu. Berbeda dengan Interstellar yang penjelasan sciencenya masih agak njlimet. The Martian sukses dimamah biak dengan gampang (dan bagiku, yang jenius itu adalah bagaimana bisa menjelaskan persoalan rumit dengan cara yang paling mudah hingga anak TK aja bisa ngerti).

Plus satu lagi nilai tambah film ini adalah tokoh utamanya adalah ahli tanaman (dan justru hal inilah yang menyelamatkannya). Sebagai sarjana pertanian aku merasa bangga dan meyakini bahwa film ini wajib ditonton anak-anak pertanian dimanapun wahai kalian berada. Sudah lama sekali jurusan kita dipandang sebelah mata dan inilah saatnya bagi kita untuk berkata ” in your face, Neil Armstrong ” pada dunia.

Enggak Usah Sok Asyik

image

Baru saja selesai nonton Avengers : age of ultron, sendirian. Kesannya cuma satu, film bagus. Bagi penggemar komik pahlawan Marvel wajib ditonton dengan atau tanpa teman, udah gitu aja. Tapi disini aku bukan mau review film kok. Aku yakin yang lain udah banyak mengulas film ini.

Ok. Kita kembali ke beberapa hari lalu saat aku chatting dengan seorang kenalan lama. Awalnya sih basa-basi ngobrol. Yang enggak enak adalah ujung-ujungnya dinasehati supaya cepat menikah. Jangan terlalu memilih. Bla…bla…bla!

Aku pada akhirnya cuma bisa mesem.

Cuma Tuhan yang tau apa-apa yang ada dibenak umatnya baik yang tersurat maupun tersirat. Dan seriusan, enggak pernah loh ada niat untuk menunda, ya tapi kalo jodohnya belum dateng mau dijemput kemana? Emang ada yang tau?

Kadang-kadang aku pikir, apa mengganggu banget ya status single perempuan usia 30 tahun keatas. Aku gak minta biaya in hidup sama orang lain, gak pernah bikin keributan, gak nyusahin, gak godain pasangan orang lain. Kok masih dianggap ancaman bagi keberlangsungan peradaban dunia sih?

Yang rese siapa?

Yang KEPO urusan pribadi orang lain. Terserah dong maunya apa. Nggak ada yang bisa maksa orang lain untuk gak menggunakan alat kelaminnya kecuali buat pipis. Itu hak dia, suka-sukanya dialah. Siapa elu, coba?

Ok. Udah cukup misuh-misuhnya. Back to the work.

Do you believe in God? Intinya, aku percaya Tuhan. Dan Alloh pasti punya rencana yang indah untuk tiap umatnya. Hanya saja kita tidak tau bagaimana rencananya bekerja. Jadi, we’ll see. Semuanya akan baik-baik aja. Trust God, ok?

Mental Gratisan Tidak Akan Mengerti

image

Pernah nonton film dengan nyewa satu studio untuk diri sendiri?

Kebayang nggak pas filmnya diputar, kamu bebas duduk dimana aja. Dan nggak ada penonton rese yang jalan kesana kemari, berisik atau sibuk mesum dengan pasangan, nggak ada orangtua bodoh yang bawa anak kecil dan sepanjang film anaknya nangis, merengek atau lari-larian.

Aku pernah.

Kamis malam kemarin (05-03-2015), aku nonton film The Con Artist bareng seorang sahabat. Kami dapat posisi strategis dan benar-benar cuma berdua nonton filmnya. Berasa horang kayah yang nyewa satu studio kayak di adegan drama-drama negeri gingseng. Wkwkwk.

Filmnya bagus kok. Ceritanya tentang pencuri profesional sekaligus pemalsu yang saking jagonya, enggak punya catatan kejahatan dan bahkan gak pernah didengar orang dunia hitam.

Cuma, yaitu tadi. Enggak ada yang mau nonton film Korea di bioskop Indonesia. Mungkin orang-orang terlalu gengsi dan underestimate. Lebih milih produksi Hollywood yang bahkan ada juga sih yang sampah or lebih suka film esek-esek yang dicoveri label horor.

Underestimate, karena menganggap aktor Korea cuma jual tampang mulus bekas operasi plastik. Tanpa sadar melewatkan betapa jago dan penuh kejutannya para penulis cerita atau skenario negeri itu.

Well, memangnya kenapa kalo muka mereka lebih mulus dari pantat bayi? Toh kalo akting mereka jelek, ya tetep aja jelek dan gak bakalan ada yang mau nonton filmnya. Dan siapa bilang aktor Hollywood bersih dari plastic surgery? Kamu belum tau aja.

Balik ke film The Con Artist, ini film perdana Kim Woobin dan ia cemerlang. Pantas disandingkan dengan Lee Min Ho yang jauh lebih senior. Woobin cakep, tinggi banget dan suaranya husky. Bener-bener tipe gue banget. Wkwkwk.

Film ini ibarat versi mininya Ocean Eleven dan one man standingnya The Italian Jobs. Menarikkan. So, masih nggak tertarik nonton?

Apa?? Nunggu bajakan atau download gratis? Wew, enggak bisa bilang apa-apa deh. Mental gratisan pasti nggak bisa ngerti kalau untuk bikin sesuatu perlu usaha dan daya, dan itu semua perlu modal. Paling tidak untuk seniman yang karyanya kau sukai, belilah karya aslinya. Untuk menghormati dan menghargai kerja kerasnya. Dengan cara itu kita mendukung mereka. Toh, merekakan juga manusia yang butuh makan, artinya ya butuh uang juga. Ya kan?

Moral Story, Mbak Cantik Petugas Pos

Saya baru mengalami hal tidak menyenangkan saat menggunakan jasa Kantor Pos. Dan nggak tau apa ini kekhilafan petugasnya atau justru malah, modus dalam mengambil keuntungan dari pengguna jasa paket POS.

Begini ceritanya, pagi ini (28-10-2014)saya mengirim paket dari Batam ke Medan. Setelah mengisi form pengiriman saya menyerahkan paket untuk ditimbang. Berat paketnya sebesar 2.311 gram. Dan kemudian si mbak petugas menge-print resi dan meminta saya menandatanganinya.

Setelah itu ia meminta ongkos pengirimannya sebesar Rp. 70.000 rupiah dan saya langsung membayarnya tanpa melihat isi resi. Selesai dong, saya segera kembali ke kantor.

Nah, pas di kantor baru saya mengecek resinya dan melihat biaya pengiriman cuma Rp. 45.000. Lah saya jadi mikir “kok si embak petugasnya minta Rp. 70.000?”

70.000 – 45.000 = 25.000 biaya untuk apa dong?

Mungkin uang segini nggak seberapa buat beberapa orang sedangkan sebagian lain, Rp 25.000 bisa untuk makan siang di Batamindo Plaza (ini sih buat saya, wkwkwkw). Well, bukan masalah nilai uangnya.

Karena penasaran, akhirnya saya balik lagi ke kantor pos tersebut (kantor pos batam muka kuning 29433A, saya lupa namanya tetapi ia satu-satunya petugas wanita yang tidak berhijab dan rambutnya hitam, lurus dan panjang. Mukanya juga manis loh. *kok malah promosi*).

Dengan menunjukkan resi berbiaya Rp. 45.000 saya menanyakan, mengapa harus bayar Rp. 70.000 sementara ongkos yang tertera tidak seperti itu.

Mbak tersebut (ekspresi wajahnya terlihat biasa saja) cuma bilang “oh, begitu ya. ” Lalu ia berkata “maaf ya, tadi saya cuma mengikuti biaya yang tertera di system (komputer) dan ternyata biayanya berbeda dengan print resi. ”

Ia mengembalikan kelebihan uang saya. That’s it, perkara selesai.

Dan saya? Tentu saja menerima uang tersebut. Lah, wong memang hak saya kok. Wkwkwk.

Saya nggak tau, apakah benar system di komputer bisa berbeda dengan hasil print-nan? Make sense nggak? Apa yang tercetak harusnya kan karena hasil perhitungan biaya dan jarak untuk pengiriman paket pos. Bener gak logikanya?

Kedua, saya juga nggak tau, apakah ini murni human error atau memang modus si embak untuk mengemplang pengguna jasa pos yang tidak teliti seperti saya. Ya, saya akui bahwa saya juga salah, mengapa tidak langsung mengecek apa yang tercetak diresi dan mengkonfirmasinya ulang.

Ketiga, saya juga nggak tau apakah ini kejadian pertama atau tidak bagi para pengguna jasa kantor pos Batamindo Industri Park, Muka Kuning Batam.

¤¤¤¤

Mungkin banyak yang bertanya-tanya, kenapa saya meributkan hal kecil seperti ini. Dan kenapa saya nggak mengikhlaskan saja uang segitu. Alasannya adalah :

1. Saya tidak mau diam dan melihat saja sesuatu yang salah sedang berlangsung di depan hidung saya. Saya tidak bisa.

2. Rasa penasaran saya, jauh lebih besar dari pada kemalasan untuk mengetahui kebenaran seharusnya. Makanya saya repot-repot balik lagi ke kantor pos untuk konfirmasi ulang.

3. Saya tidak mau orang lain, mengalami apa yang saya alami. Apalagi kalau terjadi di tempat yang sama dan oleh petugas yang sama juga.

4. Seharusnya kejadian ini, bisa menjadi pelajaran bagi yang lain agar lebih berhati-hati dan menjadi teguran agar petugasnya melakukan hal yang benar.

Saya sih nggak bilang si embaknya sengaja loh, juga nggak nuduh dia bersalah tapi kalau bertanya-tanya gara-gara kejadian ini, wajarkan.

¤¤¤¤

Kejadian ini mengingatkan pada adegan favorit saya di film The Equalizer yang dibintangi oleh Denzel Washington.

Saat itu Robert McCall (Denzel Washington) menawan seorang polisi korup dan berkali-kali memintanya “do the right thing. ” Karena si polisi ini awalnya adalah polisi yang baik namun pada akhirnya bekerja pada mafia rusia dan memiliki sejumlah bukti transaksi keuangan mafia dengan banyak pejabat tinggi.

Do the right thing adalah hal yang teramat sulit untuk dilakukan tetapi bukan tidak mungkin.

Saya percaya bahwa hanya moral yang dapat membedakan kita dengan hewan. Hanya moral yang membentengi kita dari dosa dan tindakan lain yang salah secara hukum atau agama. Karena meski kita berpendidikan tinggi, berpengetahuan agama selangit, mempunyai harta segudang tetapi moral kita rendah, bukan jaminan bahwa kita akan melakukan ‘hal yang benar’ atau do the right thing.

Lihat saja para pejabat negara yang tertangkap oleh komisi pemberantasan korupsi. Andi Malarangeng, Nazaruddin, Angelina Sondakh dan lain-lain. Mereka jelas-jelas berpendidikan serta pintar. Kemudian beberapa pejabat yang tertangkap, rata-rata adalah muslim dan sudah melakukan ibadah haji (artinya mereka tau kewajiban dalam agama islam). Bahkan salah seorang menteri agama (yang kini sudah mantan), dinyatakan sebagai tersangka korupsi dana serta kuota haji.

Memalukan bukan? Menteri agama seharusnya merupakan orang yang ilmu agamanya tinggi dan zuhud (terhadap hal duniawi). Nyatanya?

Jadi kalau ada yang memprotes kepemimpinan Ahok dengan alasan karena ia bukan seorang muslim. Saya pikir jauh lebih baik seorang pemimpin yang kafir namun mau bekerja untuk rakyat dengan tulus. Dari pada pemimpin yang muslim namun ujung-ujungnya ditangkap KPK karena makan uang rakyat yang bukan haknya.

Dan kalau ada yang bilang perempuan merokok dan tatoan, yang cuma tamat sekolah menengah pertama, enggak pantes dijadikan menteri di kabinet yang baru. Itu yang ngomong, pernah membangun sebuah perusahaan dari nol hingga memiliki 50 pesawat bernilai jutaan dollar? Dengan usaha sendiri dan memberikan lapangan kerja bagi banyak orang.

Bu Susi pekerja profesional dan itu sudah terbukti loh.

Nggak ada korelasinya merokok, tingkat pendidikan, tatoan, berhijab dengan moral seseorang. Nggak ada jaminannya. Lah, wong yang berhijab, yang haji sudah beberapa kali, bahkan yang bertitel menteri agama aja, nggak bisa mempertahankan moralnya untuk tetap bersih.

Dan buat yang mikir perempuan merokok adalah bitch. Kamu harus ketemu dengan nyokapku. Beliau perokok (Yah, walau aku lebih suka nyokap berhenti merokok demi alasan kesehatan). Ditinggal mati suami diusia masih muda dan harus mengurus serta menyekolahkan 5 orang anak. Sampai sekarang masih setia menjanda dan berjuang serta masih cinta mati ke bokap. So, bitch dari mananya coba?

Merokok itu cuma pilihan hidup. Selama yang ia pertaruhkan adalah kesehatan dirinya sendiri serta memakai uang miliknya sendiri, biarkan saja lah. Ingat para petani tembakau serta buruh pabrik rokok, mereka juga butuh penghasilan. Dan jangan lupa juga bahwa beasiswa pelatihan bulu tangkis terbaik di Indonesia berasal dari mana? Yak… anda benar. Djarum. Kamu pikir dari mana duit yang dipakai melatih, Ahsan-Hendra. Lilyana Natsir dan atlet-atlet bulu tangkis yang memperoleh medali emas dalam ajang bergengsi dunia.

¤¤¤¤

Guys, lakukan hal yang benar. Do the right thing. Do the right thing. Nggak mudah tapi bukan nggak mungkin dilakukan.

See you.

Bisik-Bisik Sebelum Nonton

Uang memang bisa beli segalanya tapi kebahagiaan bisa membuatmu memiliki apa saja tanpa mengeluarkan uang sepeser pun.

Kemarin malam aku nonton film Lucy dengan sahabat. Suka deh dengan ide dan cerita filmnya, keren. Bagaimana bila ada manusia yang 100 milyar neuron diotaknya aktif? Sebagai tambahan orang tersebut adalah ikon perempuan cantik dan sangat seksi. Hiperbola bangetkan? He3x.

Buat penggemar science dan thriller, film ini cukup menghiburlah. Bagi orang awam seperti aku, bikin nyadar kalau dengan 10 % bagian otak yang aktif saja manusia bisa mencapai dunia digital seperti saat ini. WOW!

Well, aku pasti bukan penggemar Scarjo-nya tapi Morgan Freeman lah. He3x. Aku suka Mr. Freeman mulai dari film Prince of Thieves, Robin Hood yang Ost-nya dinyanyikan oleh Bryan Adams. Kemudian yang paling stunning adalah di Bruce All Mighty, bareng Jim Carey. Doi jadi tuhan loh, tapi cuma difilm kok komedi lagi.

Cukup deh cerita tentang filmnya. Nah ada yang menarik saat aku menunggu pintu studio 4 Blizt buka di Kepri Mall. Aku dan sahabatku duduk di kursi tunggu dan di seberang kami adalah serombongan pria-pria muda yang juga akan menonton.

Biasalah kalau laki-laki ngumpul, pasti pembicaraannya nggak jauh-jauh dari masalah cewek. He3x. Sama kalau perempuan ngumpul, omongannya juga sebaliknya tentang cowok plus gosip artis terbaru, fashion dan lain-lain. Tadinya sih aku cuek cuma mereka ngobrolnya dengan suara keras, mau nggak mau ya kedengaranlah semua apa yang diomongin.

So, gini ceritanya salah seorang dari mereka, kita sebut saja Mr. A sedang mamerin kedekatannya dengan perempuan pada teman-temannya.

A : “Doi mau ikut nonton, bro. Tapi minta jemput. ”

“Cantik nggak? Cantik nggak?” Tanya teman-temannya bersemangat.

A : “Nggak cantik. Cuma, udah punya *SK. ”

*SK = surat keputusan yang menyatakan sebagai pegawai negeri. Artinya perempuan itu bekerja sebagai pegawai negeri sipil.

Teman-teman si A makin bersemangat sampai ada yang nyelutuk seperti ini.

“Bro, kalau lu nggak mau over ke gue aja. Minta nomor telefonnya, biar gue buat dia gadaikan SKnya. ”

Dueeeng!!

Sampai disini, aku dan sahabatku saling pandang-pandangan. Mikir.

Poin pertama yang bikin meringis adalah : bagi para pria ini tampang seancur apapun nggak masalah asalkan punya pekerjaan mapan or harta or duit. Dan yang kedua bikin ngilu adalah : mereka begitu bersemangat untuk berniat memoroti perempuan targetnya.

Oke. Seharusnya aku nggak sekaget itulah. Jujur aja, aku pernah melihat gadis-gadis matrealistis yang mau saja berpacaran dengan pria, yang hanya harta atau uangnya saja yang bisa membuatnya menarik. Dan aku yakin pasti ada juga lelaki matrealistis yang bersikap sama terhadap perempuan.

Hanya saja, aku merasa kasihan pada mereka. Baik para perempuan matre atau lelaki matre. Kenapa?

Karena pencapaian mereka hanya akan sebatas materi. Yang bisa saja berupa barang dan lain-lain serta segala hal yang mempunyai ukuran atau skala mahal, mewah, terbatas dan sebagainya.

Menyedihkan sih menurutku, begitu terobsesi dengan hal-hal duniawi yang fana. Yang nggak bertahan lama dan aku yakin nggak akan bisa memuaskan ketamakan mereka sendiri.

Akan ada saatnya, dimana materi tidak lagi merupakan hal yang paling penting dan bisa membuatmu merasa bahagia. Mungkin kau tak memiliki apapun dalam kantongmu atau justru kau memiliki banyak direkeningmu, tetapi yakinlah kebahagiaan sejati bukan diukur oleh itu.

Coba cek apakah ukuran atau skala kebahagiaanmu udah benar atau belum?

Respek pada Yang Mati #RIPPaulWalker

Sudahkah aku pernah bilang, bahwa aku penggemar film tentang balapan mobil macam Fast Furious? Owyeah, aku suka film ini seperti menyukai Harry Potter dan mengikutinya dari awal. Selain juga, aku memang suka dengan aktor Vin Diesel dan The Rock yang main difilm itu.

Tapi pagi ini ditimeline akun twitterku ramai berita kalau Paul Walker, salah seorang tokoh penting di FF meninggal kecelakaan. Awalnya kukira hoax, sayangnya dikonfirmasi benar oleh akun terferifikasi milik sang aktor @RealPaulWalker. Ternyata sang aktor memang benar kecelakaan dan meninggal. Beberapa situs berita online kemudian ramai membicarakannya, semakin membuatku yakin bahwa berita ini benar. “Kecelakaan, Bintang ‘Fast & Furious’ Paul Walker Meninggal Dunia http://t.co/9Oh2DDPack

Sayangnya dari berbagai komentar orang-orang yang kuikuti akunnya ditwitter, hanya ada sebuah akun dengan jumlah follower dua setengah juta orang, yang cuma bisa bilang ‘FF7 nggak seru dong” plus #RIP dan link gambar kejadian kecelakaan. Dan tweet tersebut dire-tweet sekitar ribuan orang followernya (parah ya?).

Ck, apa cuma aku followernya yang merasa “Man, ini soal mati loh. Bukan cuma sekedar doi itu bintang film dan mati tragis dalam kecelakaan. Dan elo cuma bisa bilang ‘FF7 nggak seru dong’. Seseorang mati, nggak bernafas lagi, nggak bisa hidup lagi. Dan seseorang ini punya keluarga, punya orang-orang yang mencintainya dan dicintainya. Dan hidupnya dia bukan hanya tentang film fast and furious.”

Aku speechless. Seseorang dengan pengikut sebanyak itu harusnya punya tanggung jawab moral terhadap orang-orang yang mengikutinya. Karena orang-orang akan memperhatikan dirinya, menjadikan dirinya sebagai acuan, dan tak selamanya orang-orang berkomentar positif. Jadi apa salahnya dengan menunjukkan respek yang lebih baik terhadap berita kematian (siapapun yang mati). Nggak sulit kok, sungguh.

Coba bayangin seandainya bokapmu adalah Paul Walker yang mati dan kamu dengar ada orang bilang gini “ck, Fast and Furious 7 nggak seru dong”. Gimana perasaan kamu? Well, kalau aku diposisi tersebut, aku nggak peduli dengan apa yang terjadi pada film itu. Siapa yang bisa peduli dengan itu, kalau kamu kehilangan orang yang kamu hormati dan cintai. Dan disaat keluarga yang sedang berduka ini, orang lain malah salah fokus ngomentari betapa tidak serunya film itu tanpa bokapmu, apa kamu tidak merasa pengen nonjok orang tersebut karena nggak punya perasaan menghargai duka bagi yang ditinggalkan?

Hidup ini gampang kok. Lapar ya makan, haus ya minum. Berbuat kebaikan dan jangan mengganggu orang lain. Lakukan perintah agama dan jauhi dosa. Dan satu lagi yang penting, tunjukkan respek pada yang mati. Dengan begitu baru kita layak disebut hidup.

Rest in Peace @RealPaulWalker, our love and respect always be with you. Selamat Jalan, dude. (Sedih euy, langsung kebayang beberapa film doi yang aku tonton).