Berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi

image

Suka ngerasa lucu, kalo dituduh jomblo bertahun-tahun karena nyari yang terlalu sempurna. Well, gak semua orang beruntung untuk bisa jatuh cinta dan punya kesempatan menikah seperti yang lainnya. Sebagian hanya bisa jadi penonton, penyemangat atau malah perusak hubungan orang lain. Dan amit-amitnya, semoga aku bukanlah bagian dari itu semua.

Mungkin, ini masih kemungkinan saja. Bahwa aku terlalu mencintai diriku sendiri, hingga begitu tamak. Tidak mau berbagi dengan siapapun.

Mungkin, memang benar adanya bahwa sepi adalah nama tengah yang tak bisa dipisahkan dariku. Bahwa sendiri bukanlah kutukan yang harus kutanggung. Tapi ini adalah takdir yang kupilih sendiri. Karena mungkin saja, bukan terlalu bagus atau terlalu buruk maka tidak ada yang sebanding serta sesuai denganku. Sekali lagi ini adalah kemungkinan.

Aku adalah produk generasi kedua dari orang tua yang saling mencintai bahkan hingga maut memisahkan mereka. Kakek, nenek, ayah dan ibuku. Mereka pecinta yang setia. Jadi kalau dibilang aku tidak percaya cinta, itu salah.

I do believe it, but maybe i don’t deserve it.

#31

image

Saya ndak malu ngakui sudah tua.
Pun gak pernah menutupi kalo masih belum juga dilamar laki-laki. Lah perkara memilih kan kebijakannya para lelaki, saya cuma bisa meng-iyakan kalo memang bisa diyakinkan. Nah masalahnya … ya gitu-gitu aja terus, kayak lingkaran gak berhenti sampe rnoju berhenti mbakol fitnah. Apa mungkin?

Saya wes luweh.
“Udah selow aja” kata adik saya yang remaja.
Udah sampai level ikhlas kalo di kasih kanjeng gusti alloh alhamdulilah kalo ndak ya rapopo. Ndak mesti galau dan misuh-misuh nggugat hak prerogatif tuhan. Lah kuwi sopo?

Ndak butuh penilaian orang lain untuk njalani hidup kamu. Yang tau apa yang kamu mau serta apa-apa yang kamu ingin capai dan perjuangkan, ya dirimu sendiri. Jadi mau bahagia atau menderita ya ada ditanganmu, bukan diputuskan oleh tetangga atau saudara perempuan ibumu yang bawel.

Kamu yang berhak, mau hidup kayak apa dan menjalaninya seperti gimana?

Beranilah untuk kehidupan. Gak usah takut nangis, terluka, tertawa dan bahkan merasa iri. Karena berbuat kesalahan adalah manusiawi, cuma jangan lupa belajar dari itu biar gak lebih bodoh dari keledai.

#31

Kamu apa kabar?

image

Dalam pelukan dia, harusnya tak ada kesedihan. Kalaupun ada tangis, semoga bukan karena alasan yang salah.

Kamu apa kabar?

Kadangkala terlintas tanya, mengapa aku tidak menjadi pilihan? Mengapa perasaan bisa berubah? Mengapa hanya aku sendiri yang masih mendekap sepi seolah karib?

Aku enggak tau jawabnya. Atau masih perlukah, apabila yang kubisa hanya menunggu dalam ketidakpastian.

Ketika kamu memutuskan pergi, aku begitu marah dan terluka. Lalu menyalahkan diri hingga sampai pada tahap menerima, mungkin saja aku memang bukan yang terbaik untukmu. Bahwa bahagiamu adalah dia.

Dan aku menyadari ketika kita bersama, aku percaya padamu. Aku tulus dan yang kurasakan adalah nyata, senyata ciuman-ciuman yang kita bagi disela rak buku, dibalik pintu kamar ibumu dan di hari hujan deras malam itu. Kinipun aku masih mempercayai dirimu.

Kau dan kapasitas mu dalam mencintai. Aku hanya kehilangan kesempatan itu.

Kini aku berharap kau baik-baik saja, dicintainya. Dirawat dan dijaganya. Bahagia harus lebih daripada saat-saat kita. Sehingga penyesalan ini tak boleh mempunyai arti.

(Sumber foto : @zarryhendrik)

Easy Girl, Take it Easy

image

Ketemu kenalan lama setelah bertahun-tahun banget, yang dahulu sempat saling goda, taksir-taksiran, hampir jadian tapi karena sesuatu hal gagal. It means something-kan? Harusnya.

Tapi setelah beberapa kali chatting, enggak sengaja liat profil sosmed-nya gambar anak balita. Mwuahahaha…. Well, kesimpulannya sesuatu enggak harus punya arti kok. Jangan memaksakan takdir dan nggak usah pula mencoba menebak kemana arahnya akan membawamu.

Ok. Aku tidak akan sesantai ini kalo enggak punya kerjaan. Enggak mandiri. Hidupnya numpang sama ortu. Plus dikejar deadline usia, jodoh serta lain hal. Tapi hidup adalah pilihan yang kita buat. Bagaimana dan apa, kita yang menentukan meskipun kadang (seringkali) enggak sesuai dengan yang kita rencanakan.

Aku pernah bilang sama my lil bro, bahwa aku sejujurnya tidak terobsesi dengan cinta. Pernikahan. Dan anak. Kalau mau ngelangkahin (duluan nikah) silahkan aja. Kebetulan adikku sudah bertahun pacaran dengan seorang gadis dari jaman SMU sampai lulus kuliah dan sudah bekerja.

Adikku ngakak. “Terus lo mau mati tua, kesepian dan sengsara kak?” Tanyanya.

Aku senyum.

“Aku bahkan nggak berencana untuk hidup lama. ” jawabku percaya diri.

Cita-citaku kan memang pengen mati muda. Aneh ya? Dikit. Dikit kok.

Enggak Usah Sok Asyik

image

Baru saja selesai nonton Avengers : age of ultron, sendirian. Kesannya cuma satu, film bagus. Bagi penggemar komik pahlawan Marvel wajib ditonton dengan atau tanpa teman, udah gitu aja. Tapi disini aku bukan mau review film kok. Aku yakin yang lain udah banyak mengulas film ini.

Ok. Kita kembali ke beberapa hari lalu saat aku chatting dengan seorang kenalan lama. Awalnya sih basa-basi ngobrol. Yang enggak enak adalah ujung-ujungnya dinasehati supaya cepat menikah. Jangan terlalu memilih. Bla…bla…bla!

Aku pada akhirnya cuma bisa mesem.

Cuma Tuhan yang tau apa-apa yang ada dibenak umatnya baik yang tersurat maupun tersirat. Dan seriusan, enggak pernah loh ada niat untuk menunda, ya tapi kalo jodohnya belum dateng mau dijemput kemana? Emang ada yang tau?

Kadang-kadang aku pikir, apa mengganggu banget ya status single perempuan usia 30 tahun keatas. Aku gak minta biaya in hidup sama orang lain, gak pernah bikin keributan, gak nyusahin, gak godain pasangan orang lain. Kok masih dianggap ancaman bagi keberlangsungan peradaban dunia sih?

Yang rese siapa?

Yang KEPO urusan pribadi orang lain. Terserah dong maunya apa. Nggak ada yang bisa maksa orang lain untuk gak menggunakan alat kelaminnya kecuali buat pipis. Itu hak dia, suka-sukanya dialah. Siapa elu, coba?

Ok. Udah cukup misuh-misuhnya. Back to the work.

Do you believe in God? Intinya, aku percaya Tuhan. Dan Alloh pasti punya rencana yang indah untuk tiap umatnya. Hanya saja kita tidak tau bagaimana rencananya bekerja. Jadi, we’ll see. Semuanya akan baik-baik aja. Trust God, ok?

LOVE SICK : Jalang dan Brengsek

image

Demi lelaki ini, aku tabah menghadapi dunia dan telah menjadi wanita jahat.

Isyana sudah bangun sejak dua puluh menit yang lalu. Namun seperti kebiasaannya selama ini, ia masih berbaring dengan wajah menatap Hiro Yamada. Pria berwajah tampan dengan rahang kukuh, yang kini tampak biru karena cambang yang belum dicukur.

Wanita berambut sepunggung ini tersenyum sedih. Jari-jari tangan kirinya menyentuh pipi pria tersebut. Sebuah cincin putih dengan mata berlian tunggal, menghias jari manisnya. Namun kilaunya malah mengingatkannya akan harga yang harus ia bayar demi semua ini.

Pria yang kini berada di ranjangnya. Status yang ia miliki. Serta semua kebahagian ini.

Ia mendapatkannya dengan merebut kebahagian wanita lain. Sebuah keluarga terkoyak oleh keberadaannya. Seorang istri dikhianati dan seorang gadis kecil harus kehilangan figur Ayahnya.

Dan disetiap bangun pagi, rasa bersalah itu terus menggerogotinya. Betapa kejam dan egois dirinya, menghancurkan kehidupan orang lain demi kebahagian diri sendiri.

“Maaf. ” bisiknya pelan entah pada siapa.

Ia lalu memajukan wajahnya dan mengecup sekilas pipi prianya.

“I love you. ”

Isyana bangkit dari ranjang. Tubuh langsingnya telanjang, tampak indah dalam siluet cahaya temaram. Ia meraih sebuah gaun longgar yang tergeletak di lantai.

Harinya sudah dimulai dan ia sudah memilih untuk hidup seperti ini. Jadi, ia harus kuat dan bertahan. Isyana tak boleh menunjukkan kelemahannya. Bukan karena ia takut, hanya saja orang-orang lebih mengharapkan ia bersikap tidak tau malu dan kejam. Dan itulah yang selalu ia lakukan.

Menjadi Si Jalang.

*****

Demi wanita ini, aku rela membuang segalanya dan menjadi pria kejam.

Aku menatapnya dalam diam.

Isyana selalu melakukan ritual yang sama setiap pagi. Membuka matanya, menatapku dengan pandangan sedih. Meminta maaf. Menciumku dan menyatakan cintanya. Lalu memulai aktivitasnya.

Sesungguhnya aku tau isi hatinya. Rasa bersalah yang ia tanggung. Juga rasa malu yang mengetuk nuraninya, karena bisa berbahagia diatas penderitaan wanita lain. Dan pergulatan perasaannya itu selalu ia tutupi dari semua orang termasuk diriku.

Tidak ada yang menyadari betapa tidak mudah ia menjalani semua ini. Tidak ada yang mengetahui Isyana sudah berusaha begitu keras untuk menghindari semua kekacauan ini terjadi. Dan akulah yang paling bertanggung jawab.

Dulu aku sudah pernah menikah dan baru saja mempunyai seorang putri yang lucu. Hidupku nyaris sempurna dengan karir yang mapan dan keluarga kecil yang stabil. Namun entah mengapa, jauh di dasar hatiku ada hampa yang mengigit. Yang tidak kutahu alasannya.

Lena, istri pertamaku adalah wanita baik. Ia cantik dan kami sudah bersama selama bertahun-tahun sebelum menikah. Tadinya aku pikir ialah satu-satunya yang kumau seumur hidup tapi aku salah.

Pertama kali aku melihat Isyana, aku terpaku seolah ada sesuatu dalam dirinya yang berbeda. Dan aku tidak tau apa itu. Padahal penampilannya jauh dari kata menarik. Namun ia selalu tampak santai, nyaman dan percaya diri.

Lalu perlahan semakin aku mengenalnya, aku bagai menemukan seseorang seperti diriku namun lebih pintar. Lebih bijaksana dan jauh lebih sabar. Aku belum menyadari bahwa perasaan ini bisa tumbuh melebihi apa yang pernah aku pikirkan.

Isyana sudah mencapai usia 30 tahun (ia lebih tua 3 tahun dariku). Tetapi ia terlalu sibuk dengan pekerjaan yang ia cintai dan tak terbebani status lajangnya. Ia sungguh wanita mandiri yang berbahagia dengan apapun keadaannya.

Tanpa sadar aku mulai membandingkan Lena dengannya. Dan aku merasa tidak puas.

Isteriku pada saat itu tau ada sesuatu yang menggangguku. Namun tidak berpikiran jauh. Ia percaya padaku, percaya pada kapasitasku sebagai aku.

Tetapi aku ternyata adalah lelaki brengsek. Diam-diam dalam persahabatan dengan Isyana, aku hendak melampauinya. Aku cemburu bila ada lelaki yang menggodanya. Aku tidak menyukai saat orang lain membuatnya tersenyum ataupun tertawa. Dan yang paling sadis adalah aku mencuri sebuah ciuman dengannya.

Isyana kaget. Dan ekspresi wajahnya tampak seolah aku telah menamparnya.

Lalu sebuah pemahaman muncul dibenaknya. Dan ia menolak ide ini sekeras mungkin.

Ia berhenti bicara denganku. Menolak bertemu apalagi memandangku. Dan pindah kerja, meskipun sangat menyukai tempat dan pekerjaannya saat itu. Semua itu dilakukannya agar dapat menjauhiku.

Isyana berhasil.

Aku tak dapat mendekatinya lagi. Tapi masalahnya justru dimulai dari sana. Aku sudah menemukan sesuatu dan harus kehilangan sebelum bisa memiliki.

Aku menggila. Aku tak bahagia. Tak bisa menerima keadaan ini.

Dan aku tak bisa kembali ke kehidupan lamaku seperti saat ia belum datang. Perlahan tapi pasti Lena menyadarinya dan itu membuatku tambah frustasi.

Ia bertanya dan terus bertanya hingga membuatku marah. Kami bertengkar bahkan untuk hal-Hal sepele. Lena mencurigaiku, mengkonfrontasi dan memaksaku mengakui sesuatu yang tidak kulakukan. Lagi dan lagi hingga akhirnya aku yang memang tidak dikaruniai kesabaran, meledakan amarah.

Sebenarnya aku sudah berusaha memperbaiki keadaan dan mempertahankan rumah tangga kami. Tetapi wanita yang terluka dan tersesat dalam kemarahannya, mampu melakukan apa saja.

Lena mendatangi Isyana, mempermalukan dan menterornya. Membuatnya menanggung kesalahan yang tak pernah ia buat. Dan aku terlambat mengetahuinya.

Aku mengerti isteriku terluka hatinya, mengetahui ada wanita lain dihati suaminya. Tapi siapa yang bisa mengontrol kemana arah perginya hati? Seberapa keras pun aku mencoba, tidak bisa membuang kenyataan ini.

Ada yang menjadi korban tak bersalah disini dan ini tidak adil baginya. Tetapi dunia tidak melihatnya seperti itu. Ia dicap sebagai wanita penggoda. Perusak rumah tangga.

Aku tidak bisa melihatnya seperti itu. Semakin aku memikirkannya semakin yakin aku untuk memilih bersamanya meskipun tidak mudah. Lalu kuputuskan menjadi Si Brengsek yang meninggalkan keluarga demi wanita lain.

Aku ingin berbahagia dengannya meski itu menyakiti banyak orang, meskipun dunia menyumpahi dan mengutuk kami. Aku sudah tidak peduli.

Bukan Kesalahan Kami : Jomblo Menggugat

“Laki-laki usia 30-an pasti nyari pasangan yang usianya 20-an. ” Ujar temanku sok tau, beberapa hari yang lalu.

“Dan laki-laki usia 20-an biasanya juga nyari yang sepantaran dengannya. Bahkan lelaki usia 40-an pun kalau bisa nyarinya juga yang usia 20-an juga sih. ” Tambahnya lagi seolah mewakili pendapat kaumnya.

¤¤¤¤

Dari pembicaraannya aku jadi mikir kesempatan buat perempuan usia 30an mencari jodoh kok ya kecil dan pilihannya semakin terbatas. Kasian banget para perempuan single usia 20an akhir ke atas seperti diriku, alamat makin susah menemukan pasangan. Well, aku pribadi kalau ditanya pendapatku, pria usia berapa yang diinginkan. Dengan lantang aku akan menjawab : “PRIA MATANG. ”

Pria yang tau apa yang diinginkannya dan nggak segan-segan bekerja keras untuk mewujudkannya. Pria yang nggak akan galau karena dicuekin saat pesan tidak dibalas, telfonnya tidak diangkat dan tidak curhat ke media sosial. Pria yang tau cara memperlakukan wanita dengan rasa hormat dan manis tanpa harus kehilangan kemaskulinannya.

Dan aku bisa bilang : usia nggak menjamin seseorang akan bijaksana atau malah alay, mau jadi seperti apa itu adalah pilihan. Lihat pemenang nobel tahun ini, Malala Yousafzai, ia masih berusia 17 tahun. Lalu Joshua Wong, pemimpin gerakan demo di Hongkong, juga masih berusia 17 tahun dan bahkan belum memiliki SIM. Disaat remaja lain (dan orang dewasa juga) sibuk selfie dan update status. Anak-anak muda ini menentang terjangan peluru, mempertaruhkan selembar nyawa dan melakukan perlawanan demi kemanusiaan dan hak azasi diusia yang masih belia.

Kembali ke soal selera pria pada daun muda dan persentase kemungkinan perempuan mendapatkan jodoh, ah masa bodohlah. Yang sudah berjodoh aja bisa pisah, jadi apa sih yang nggak mungkin terjadi di dunia ini?

Yang nggak percaya bakal menemukan pasangannya adalah orang yang nggak percaya janji Tuhan yang menciptakan semua mahluk hidup berpasang-pasangan. Yang ndak percaya cinta biasanya adalah orang yang justru sangat amat mendambakan cinta. Believe me guys, doi cuma melakukan psikologi terbalik karena takut kecewa.

Hehehe…..

Kadang aku merasa lucu dengan kelakuan orang-orang di sekelilingku. Banyak diantara mereka yang merasa kasihan padaku karena belum menikah. Banyak yang menyalahkanku karena dianggap terlalu pemilih. Bahkan ada yang mencoba menjodoh-jodohkanku dengan pilihan [seada]nya.

Mereka lupa.

Bahwa aku nggak kekurangan apapun dalam hidup (artinya aku merasa cukup dan bersyukur dengan apapun keadaanku saat ini). Aku mandiri, mampu menghidupi diriku sendiri dengan layak. Menikmati hidup dengan caraku serta tidak merugikan orang lain. Apa yang patut dikasihani dari itu, coba?

Mereka lupa bahwa walau single aku masih punya ‘selera’. Yang wajar sajalah kalau selektif dalam memilih orang yang bakal dijadikan teman hidup sampai akhir hayat. Lah wong milih sendal aja kita cari yang sesuai dengan kita, masa mau cari teman tidur berlisensi kita ngasal aja. Ya nggak lucu lah!

Dan terakhir, kadang mereka lupa bahwa keadaan ini sama sekali bukan keinginanku. Bahwa mereka sudah memiliki pasangan dan keturunan adalah suratan takdir dari ilahi. Begitupun dengan kesendirian para jomblo saat ini. Permainan takdir, siapa yang dapat menuliskan ceritanya selain Tuhan yang maha kuasa.

Jadi bagaimana ini menjadi kesalahan bagi mereka yang belum menemukan pasangannya?