Minggu yang berat untuk Dek Sonya Dipari Sembiring dan Keluarga

image

Beberapa hari ini mungkin gak ada satu orang pun yang mau menjadi ataupun berada dalam posisi Sonya Dipari, siswi SMU Methodist 1 Medan. Gara-gara ulah arogan dan tidak sopannya saat ditilang Ibu Polwan, video ia yang mengancam dan mengaku anak jendral, beredar luas dan mendapat kecaman keras dari netizen.

Hal ini tentu bukan sebuah prestasi yang membanggakan dan pasti menjadi pukulan berat bagi keluarga, melihat wajah Sonya dalam siaran berita yang disiarkan beberapa TV nasional Indonesia. Apalagi setelah ada bantahan yang dikonfirmasi langsung dari Jendral Arman Depari. Yang menyatakan bahwa ia tidak pernah memiliki putri dan semua anaknya berada di Jakarta. Sayangnya langkah Jendral Arman Depari Sembiring ini berakibat buruk.

Saya nggak bilang sang Jendral salah, beliau tidak melakukan kesalahan hanya saja kurang bijaksana. Mungkin banyak pertimbangan beliau untuk mengakui bahwa gadis dalam video ini walaupun sudah bersikap tidak benar adalah benar keluarganya. Baru setelah jumat (07/04/2016) ayah kandung Sonya Makmur Sembiring meninggal karena serangan stroke. Beliau mengakui bahwa Sonya memang adalah anak saudaranya (keponakan).

Tetapi apa lacur, gadis SMU berwajah cantik ini sudah dibully habis-habisan di media sosial dan mungkin saja karena tidak sanggup melihat berita tentang putrinya, sang ayah mengalami shock dan langsung kolaps. Sungguh satu kehilangan besar bagi Sonya dan keluarganya. Kejadian ini merupakan pengalaman pahit yang tidak akan mudah dilupakan dan bernilai mahal bagi gadis muda ini. Serta kedepannya akan jauh lebih sulit untuknya tapi bukan ia tidak belajar. Ia harus mengambil pelajaran dari kejadian ini dan tentu saja meneruskan hidup.

Sudah sewajarnya kalau dek Sonya mengalami trauma atas kesalahan yang ia pernah buat. Saya sih gak mau munafik dan mengakui bahwa sudah menjadi kebiasaan buruk di wilayah Sumut kalau tertangkap razia kendaraan banyak diantara orang yang mempunyai keluarga dengan latar belakang militer (baik Polisi atau Tentara), pasti membawa-bawa nama keluarganya supaya urusan bisa mudah. Siapapun itu dan enggak mesti pangkat jendral juga. Perilaku seperti ini sebenarnya sudah membudaya dilapisan masyarakat kita meski bukan sebuah contoh yang baik.

Jadi menurut saya Sonya tidak sepenuhnya bersalah. Jendral Arman Depari tidak sepenuhnya benar dan yang terakhir, kita sebagai netizen juga ikut bertanggung jawab. Semoga bapak Makmur Sembiring bisa beristirahat dengan tenang dan keluarga yang ditinggalkan tabah serta ikhlas. Nasihat buat dek Sonya, maafkan diri kamu sendiri. Dan kuatlah menjalani hidup. Kamu masih muda, bisa belajar dan banyak sekali kesempatan yang bisa kamu miliki. Kamu pun berhak untuk hidup berbahagia. Amin.

Note : kenapa pakai gambar es krim? Oh cuma mau pamer aja (itu dibeliin bos pas abis makan siang). Supaya bisa mengademkan pikiran panas jiwa-jiwa yang kurang piknik dan kasih sayang aja. Peace.

FRIEND=SHIP

image

Pagi ini di kantor, dimulai dengan perasaan gak enak. Gara-gara pesan skype dari teman. Bukan teman yang sembarangan pula. Yang saya hormati karena jujur saja, saya hutang budi padanya.

Masalahnya sepele sih dan sebagian besar saya memang salah. Tapi entahlah, saya seperti merasa dikhianati. Marah. Lalu sedikit menangis dan pada akhirnya ini yang paling enggak enak. Saya kecewa.

Kita temenan bukan sehari dua hari. Sering tidak cocok tapi pada akhirnya salah satu pihak pasti ada yang ngalah dan semuanya berjalan baik-baik aja. Tapi yang tadi pagi emang agak mengejutkan.

Dan saya hampir saja melakukan hal yang akan saya sesali akhirnya. Yang bisa membuat kehilangan teman penting. Sudah saya bilang kalau saya berhutang budi padanya kan? Tapi mungkin itulah letak masalahnya. Saya merasa tidak sebanding dengannya. Saya merasa rendah diri. Saya selalu seperti itu padanya.

Tapi yakin, saya pikir bicara baik-baik, berhadapan, lebih baik daripada melalui percakapan sosial media apapun. Daripada menyindir no mention di sosial media yang sama-sama kita temenan juga. Kita bukan gak bisa ngomong langsung. Tapi yah itu tadi… saya cuma bisa bilang saya kecewa.

Ini mengingatkan saya betapa dulu saya lebih suka bergaul dengan anak laki-laki. Karena persahabatan diantara cewek itu rapuh. Dan itu yang terjadi lagi. Yang bisa saya lakukan saat ini hanyalah menarik diri, sebisa mungkin tidak mencari masalah.

Manusia Kesepian Mencari Perhatian

image

Baru saja menghapus komentar di postingan salah satu tulisan lama saya. Komentar marah, kasar dan ngajak berantem karena merasa enggak terima dengan apa yang saya tulis. Bukannya tersinggung saya malah heran, kok santai banget hidupnya? Punya banyak waktu buat nulis hal enggak menyenangkan seperti itu. Kemarahan sebesar itu, serius cuma karena tulisan aja? Bukan karena masalah lain terus pelampiasannya disini. Kan banyak tuh, manusia yang suka menekan orang lain yang dianggapnya lebih rendah posisinya dibandingkan dirinya. Sindrom superior gitu. Hehehe…. ngerti kan?

Sebenarnya bukan pertama kali sih, nerima sumpah serapah yang beginian jadi udah nggak bisa dibawa kehati. Waktu musim pilpres tahun kemarin malah lebih ‘gila’. Cukuplah dibaca, “ooh…” delete sekalian blokir kalau perlu.

Kenapa?

Karena saya lebih memilih untuk enggak mau terganggu oleh perkataan negatif oleh orang yang tidak dikenal, yang bahkan sangat mungkin tak peduli dengan saya secara personal ataupun tidak.

Tidak bisa dipungkiri, akibat komunikasi via internet semudah satu ketukan jari. Lalu ada saja orang yang dengan mudahnya melemparkan omong kosong dan berharap untuk diberi applause, diberikan kemenangan. What for?

Entahlah.

Mungkin karena ini sangat mudah hingga nyaris terasa tanpa kewajiban bertanggungjawab. Mereka ngomong hal jahat, mengatakan hal jahat, berkomentar jahat, seolah memang sudah terlahir sebagai the real villian ever. Setiap hal yang berbeda, yang tidak mereka sukai atau setujui langsung dibully berjamaah dengan sesamanya. Dan seolah itu sudah benar, sehingga mutlak tak ada tempat untuk mereka yang lain, yang berbeda.

Orang-orang sudah lupa cara bersopan santun. Berkata-kata dengan baik, menyampaikan maksud dengan cara bijak. Dan ini bukan karena salah didikan, bukan juga salah kemudahan komunikasi tanpa sensor. Ini murni pilihan.

Pilihan yang salah.

Saya enggak percaya ada orang yang terlahir jahat tapi saya yakin, ada orang-orang yang membuat keputusan salah dan tak punya rasa malu apalagi rasa tanggungjawab untuk pilihannya itu. Dan saya gak mau jadi bagian dari itu baik sebagai pelaku ataupun objek. Kita bisa melakukan kesalahan kapan saja tapi lebih dari itu, Tuhan memberikan kita kesempatan untuk memulai lagi, awal yang baru. Selama kita masih ingin melakukannya lagi dan coba lagi. Dan itu jauh lebih baik.

Anjing Bener Nih PLN

Pertama sekali, saya ingin menyatakan bahwa sesungguhnya saya bukanlah orang yang suka memaki ataupun mengucap kata-kata kotor. Saya orang yang berpendidikan dan dididik ketat oleh Nenek tercinta, tidak boleh memaki/mengucap kata-kata tidak sopan dengan ancaman mulut bakal dicabein kalau melanggar. Dan bila ternyata saya sampai sudah mengucap kata Anjing pada sesuatu yang bukan Anjing, anggaplah itu puncak dari kekesalan saya yang paling berat. Dan tolong maafkan saya.

Dimana cerita ini harus dimulai?

Well, saya tinggal di provinsi Sumatera Utara, Kabupaten Asahan dan tepat di sebuah desa bernama Pulau Rakyat Tua. Ketika listrik di Sumut mengalami pemadaman bergilir selama beberapa jam, beberapa kali dalam satu hari setelah bertahun-tahun belakangan ini, saya masih bisa bersabar dan menerimanya tanpa perlu mencaci maki para pejabat PLN yang tertangkap korupsi Mark Up harga dalam pengadaan alat listrik di Sumut.

Dan saya pun tidak pernah mengucap kata-kata buruk, menyumpahi saat listrik lebih rajin mati dibandingkan pasien rumah sakit makan obat.

Tetapi beberapa hari lalu, tepatnya Kamis tanggal 20 Februari 2014 datanglah petugas PLN menagih rekening listrik ke rumah orang tua saya. Memang keluarga kami tidak rutin membayarnya setiap bulan, terkadang 3-4 bulan sekaligus dibayarkan. Kebetulan saat itu saya sedang tidak ada di rumah dan petugas PLN meminta harus dibayar saat itu juga, meski sudah diminta keringanan sampai hari Senin tanggal 24 Februari 2014. Lalu karena tidak mau listrik diputus sementara, Adik saya mendatangi kantor PLN setempat dan menyerahkan 350 ribu rupiah dari 380 ribu jumlah tagihan.

Kami sama sekali tidak bermaksud untuk tidak membayar kekurangannya. Yah, kalau memang tidak ada, nggak bisa dipaksain kan? Nggak mungkin ngerampok orang atau jual diri cuma untuk bayar tagihan listrik yang kurang 30 ribu. Dan bila pun tidak segera dibayar, bukankah masih ada kesempatan melunasinya pada saat membayar tagihan listrik di bulan selanjutnya?

Tetapi yang terjadi adalah hari ini, Selasa tanggal 25 Februari 2014 siang, petugas PLN memutus aliran listrik di rumah saya, dengan ID Pelanggan 125120230170. Cuma gara-gara tagihan listrik dibayar kurang 30 ribu rupiah.

Lalu yang pertama terlintas dipikiran saya saat mengetahui kejadian ini, “Anjing Bener Nih PLN. ”

Saya tidak pernah menuntut pelayanan maksimal dari Perusahaan Listrik Negara yang lebih cocok disebut PERUSAHAAN LILIN NASIONAL. Tetapi PLN memaksa pembayaran tepat waktu serta tidak memberi kesempatan konsumen yang telah bertahun-tahun lamanya mendapatkan pelayanan terbaik dari mereka.

Sumpah, kalau ada perusahaan listrik lainnya dinegara ini saya akan memilih pindah memakai jasa mereka dan bukan PLN lagi.

Saya kecewa dan marah. Sehingga semua ketidak mampuan PLN selama ini begitu menyakitkan bagi nurani saya. Bukan hanya karena listrik di rumah saya terputus hanya karena pembayaran yang belum lunas. Bukan hanya karena tingkat kebakaran rumah naik dan memakan korban gara-gara listrik yang korslet (arus pendek akibat listrik mati dan hidup tiba-tiba) di wilayah Sumut. Bukan hanya karena beberapa nyawa melayang akibat menghirup karbon dioksida dari mesin genset yang dihidupkan karena pemadaman listrik di rumah-rumah rakyat. Tetapi karena betapa tak berdayanya saya dalam memiliki kesempatan memilih penyedia listrik yang lebih baik di Indonesia ini. Dan sampai kapan pemadaman listrik akan terus terjadi di wilayah Sumatera Utara?

Jadi saya sampai pada kesimpulan, kalau negara memang sudah tidak mampu menyediakan listrik bagi rakyatnya, mengapa tidak memberi kesempatan pada pihak swasta untuk meramaikan penyedia listrik di Indonesia? Bukankah semakin banyak pilihan semakin baik. Rakyat boleh memilih memakai PLN yang katanya bersubsidi namun ketersediaan energinya tanggung-tanggung atau pihak swasta yang mungkin mahal namun memberikan service yang memuaskan.

Sekian dari saya di kegelapan.

Don’t Say Something Stupid

Entah kenapa liat orang gampang bilang F word pasti mikirnya……. ‘wah ni orang pasti kebanyakan nonton BF’.

Why? Karena cuma film itu yang dominan dialognya cuma F word doang. “F*ck… F*ck… F*ck yeah.. B*tch!”
Wkwkwk. Ah, you know what I meanlah.

So cerita ini dimulai saat aku, baru saja melihat seorang teman membuat status makian di sosial media. Dan sebenarnya sudah cukup sering juga melihat teman yang lain, juga melakukan hal yang sama. Curhat di sosial media dengan membuat status atau tweet berisi makian kekesalan terhadap sesuatu.

Yah, boleh-boleh aja sih curhat, marah. Tapi kata-kata kotor makian kayak F word, kelamin perempuan, kelamin laki-laki, binatang-binatang menjijikkan dan lain lain, rasanya kok nggak pantas ya diucapkan dengan kesadaran penuh. Apa cuma aku aja yang merasa begini? Atau memang hal seperti ini sudah menjadi hal biasa saja bagi orang lain?

Kupikir tidak, sopan santun yang kita jaga dalam kehidupan nyata juga berlaku di dunia maya tanpa terkecuali.

Kenapa? Karena kita, dimanapun dan pada saat apapun baik hanya dalam sosialisasi dalam dunia digital internet, adalah satu kesatuan diri kita seutuhnya. Nggak ada kesempatan buat kita untuk tidak menjaga attitude dan manner kita, kalau ingin menjadi pribadi yang mempunyai citra baik. Yah, kalau enggak keberatan dianggap jelek sih nggak apa-apa juga. Semua kembali kepilihan pribadi masing-masing.

Jadi kalau kamu nggak keberatan dianggap punya mulut kotor kayak comberan, atau dianggap nggak berpendidikan (orang yang suka memaki pasti selalu dikaitkan nggak punya pendidikan, meskipun tingkat pendidikan sama sekali nggak ada korelasinya dengan kemampuan memaki) atau dianggap orang rendahan karena nggak punya perilaku mulia (noblesse oblige). Silahkan saja memaki sekeras-kerasnya disegala sosial media dan dunia digital internet. Dan jangan nyesal karena dianggap buruk sama yang melihat. Pokoknya jangan mengatakan hal bodoh deh kalau ujung-ujungnya kamu nyesal setengah mati, terlihat bego. Oke guys?

Jangan Lakukan 5 Hal Bodoh ini di Sosial Media

Ketik. Publish. Dan voila, seluruh dunia bisa melihat dan membagikannya dalam waktu beberapa detik saja. Oke, itu mudah. Tapi bagaimana kalau yang diposting tadi adalah kata-kata, foto atau apapun itu yang mengundang kecaman dari orang lain dan kita sesali pada akhirnya? Disinilah perlu kita menerapkan sopan santun dunia maya.

Sosial media dan jaringan internet yang mudah diakses dari telepon selular, membuat orang-orang gampang saja berselancar di dunia maya. Tetapi ada juga sisi negatifnya, semua kemudahan ini harus dibayar mahal. Karena setiap pemikiran dan perbuatan mempunyai sisi pro dan kontra. Kita jelas harus lebih bijak dalam bertindak dan berpikir dua kali sebelum mengomentari atau memposting sesuatu. Apa saja hal tersebut, mari kita lihat satu-persatu.

1. Mengetik Cepat dan Typo

Ini kesalahan umum yang paling sering terjadi. Misalnya di twitter saat kita melihat tweet seseorang dan mengomentarinya tanpa lebih dahulu mengecek tweet-tweet sebelumnya, kita bisa saja salah mengerti maksudnya.
Wajar saja sih, karena tiap tweet hanya terdiri dari 140 karakter, jadi terkadang untuk memposting sesuatu maksud ia menggunakan beberapa tweet yang runut. Sayangnya karena timeline yang ramai, tweet tersebut hanya terlihat sepotong. Dan inilah yang bisa mengundang kesalahan dalam mengomentari.
Well, aku sendiri pernah mengalaminya. Dan saat akun selebtwit tersebut membalas komentarku agak “nylekit” langsung saja ada beberapa akun lain yang ngebully. Padahal kesalahanku cuma kecil.
Typo (salah ketik) juga hal yang paling sering terjadi dan mengesalkan apabila sudah keburu dipublish. Lebih baik cepat dihapus dan perbaiki. Dan sebelum mempublish sesuatu ada baiknya kita cek lagi apa yang sudah kita tulis untuk menghindari kesalahan ini.

2. Komentar yang Kasar

Jangankan di dunia maya, dikehidupan nyata komentar kasar itu tidak enak didengar. Dan tetap saja ada orang-orang yang suka berkomentar kasar dengan maksud-maksud tertentu. Padahal dengan perkataan lembut dan tepat toh tidak akan mengurangi maksud yang dikemukakan.
Mungkin bagi sebagian orang ada yang menganggap dunia maya itu jangan terlalu dianggap serius. Padahal bagi beberapa orang apa yang ia tunjukkan disana adalah miniatur dari kepribadian sesungguhnya. Aku pribadi orang yang seperti itu. Jadi kalau aku melihat mereka yang berkata-kata kasar di sosial media, aku sih menganggap the realnya dirinya pasti seperti itu juga.
Saat ini sudah banyak orang-orang yang bila ingin melihat kepribadian seseorang, dengan melihat rekam jejaknya melalui sosial media. Bahkan ada perusahaan yang sampai melihat aktifitas sosial media calon pegawai sebelum merekrutnya sebagai pekerja mereka.
Kalau kalian menganggap dunia maya itu bohongan, kalian salah. Dunia maya itu nyata, yang ada memang banyak orang-orang berbohong disini. Tapi di kehidupanpun tidak semua orang jujur, banyak juga manusia-manusia palsu. Letak bedanya adalah mereka yang memilih untuk tidak nyata dan berbohong, itu ajasih. Kamu dan apa yang kamu lakukan disini, mungkin orang lain tidak mengetahuinya. Tetapi kamu sendiri tahu kebenarannya seperti apa, dan orang yang paling kamu tipu itu sebenarnya bukan orang lain melainkan nurani kamu sendiri. Kasihan sekali menjadi diri kamu ya.

3. Menjadikan SARA, Jenis Kelamin dan Musibah/Bencana/Kecelakaan sebagai Becandaan atau Joke

Sebenarnya hal beginian sih memang tidak pantas dilakukan, tetapi masih banyak orang yang melakukannya dengan alasan lucu-lucuan. Contohnya baru-baru ini saat terjadi kecelakaan pesawat Lion Air di Bali, banyak foto kecelakaan yang beredar dan diedit menjadi ada gambar ultraman dan monster. Seolah-olah pesawat tersebut jatuh karena pertarungan ultraman tersebut. Foto-foto tersebut banyak beredar di broadcast message, bahkan dipakai sebagai display picture BBM.
Well, untuk orang-orang seperti ini aku hanya bisa bilang mereka PAYAH karena nggak peka. Bahkan yang cuma ikut-ikutan karena temannya pakai juga dan lagi happening. Kalian enggak punya otak atau nggak punya hati? Mending baca ini dulu deh. Stop! Menjadikan Musibah Sebagai Becandaan http://t.co/YsctjD8zKc

4. Jangan membicarakan hal pribadi di forum yang terbuka

Kebebasan itu memang mutlak pilihan seseorang. Tetapi alangkah baiknya bila tidak semua orang tahu masalah yang sedang kau hadapi atau hal-hal pribadi yang tidak usah dikonsumsi publik. Kita tentu tidak mau informasi pribadi kita nantinya bisa dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Karena itu berhati-hatilah mengumbar informasi pribadi di sosial media.
Dan apabila kau bertanya hal yang pribadi pada seorang teman atau kenalan di sosial media sebaiknya gunakan fasilitas yang lebih private. Seperti inbox di Facebook atau DM di Twitter. Karena akan lebih sopan dan nyaman bagi kedua belah pihak.

5. Menandai/Tag-in Foto Barang Dagangan atau Membombardir Akun Orang lain dengan Berita Broadcast Tidak Penting

Aku bukannya tidak mendukung jual beli online tetapi hanya merasa sedikit terganggu dengan ulah para penjual produk secara online yang suka seenaknya menandai kita dengan foto barang dagangannya. Ini menggangguloh. Apalagi jika ada yang berkomentar di foto tersebut maka pemberitahuan akan masuk ke kita. Padahal hal tersebut sesungguhnya tidak berhubungan dengan kita.
Kemudian hal terakhir yang paling menjengkelkan adalah broadcast message yang masuk ke akun kita yang berisi iklan dagangan atau pesan-pesan tidak penting. Terkadang hal seperti inilah alasan mengapa pada akhirnya kita menghapus pertemanan di sosial media atau BBM. Aku pribadi malah pernah mendelete kontak seseorang karena suka mengirim pesan-pesan yang melecehkan wanita atau nge-PING terus menerus sehingga aku merasa terganggu.

Oke, ini hanya opiniku saja. Tetapi aku tetap menganggap perlunya mengetahui sopan santun dalam berinteraksi di sosial media, walau belum ada peraturan baku tentang hal tersebut. Bagaimana menurutmu?