Hendak menjadi api

Kegelapan datang perlahan tapi pasti. sudah banyak yang tenggelam dalam lautan api, berharap bisa jadi suci. Tapi api adalah api, bukan harkatnya manusia menjadi api. Bukan pula tanpa sebab Tuhan ciptakan manusia dari sejumput tanah. Dari debu kembali jadi debu. Debu coreng atau debu dibasuh embun?

(Sumber gambar : Twitter)

Advertisements

Tak Perlu Membandingkan Hidup

Sementara seorang teman sedang merayakan 10 tahun pernikahannya, aku masih bergumul dengan komik, film dan masih menganggap rocker 90-an ke bawah masih yang terbaik dibandingkan musik 2000-an ke atas. Masih sendirian dan yah, sereceh itu. Aku percaya hidup tak pernah sama bagi setiap orang karena Tuhan tak akan pernah bosan menciptakan kejutan-kejutan, twist serta closure yang pantas bagi ciptaannya. Mungkin bagi orang pada umumnya punya pasangan dan berkeluarga adalah bagian dari pilihan serta takdir yang dijalani. Ada yang memilih sendiri saja karena berbagai alasan. Aku malah tidak tahu mau masuk kategori yang mana, yang percaya manusia wajib berpasangan atau yang yakin sendiri juga merupakan pilihan. Tipikal aquarius sejati yang kayak air, ditempatkan dalam wadah apapun ia akan mengisi ruang yang tersedia. Atau bahkan apabila tak ada ruang kosong, ia bisa meresap tanpa perlu dibukakan celah. Kurasa aku seperti itu.

Perempuan dan pilihan untuk menikah ataupun tidak


Tidak semua perempuan memilih menikah dan berkeluarga sebagai tujuan hidup. Ada (banyak) perempuan yang ingin mendedikasikan hidupnya untuk hal-hal diluar itu seperti karir, hasrat akan haus ilmu pengetahuan dan lain-lain. Tetapi tentu ada juga yang ambisius, bisa menyeimbangkan keluarga dan karir walaupun pasti enggak mudah ya, ibu-ibu.
Yang jadi masalah adalah stigma dimasyarakat, perempuan dewasa usia 25 tahun keatas yang punya karir atau pendidikan tinggi tapi belum menikah, itu kok ya dianggap hal yang memalukan. Seolah-olah apapun pencapaian tertinggi seorang perempuan kalau pada akhirnya ndak punya suami dan anak, belumlah berprestasi. Percuma kalau anak perempuanmu menemukan obat penyembuh HIV Aids kalau masih jomblo ndak laku. Buat apa mendapat hadiah Nobel perdamaian kalau gak punya suami buat dibawa ke reuni sekolah atau arisan keluarga besar. Apa hebatnya kamu menjadi presiden direktur F1 atau ketua dewan klub Real Madrid kalau gak punya keturunan. Bla bla bla…. dan seterusnya. Ada saja hal yang dicari sebagai kekurangan sehingga perempuan sehebat apapun, enggak akan pernah bisa melebihi  (prestasi) laki-laki. Jangan kan melebihi, dianggap sebanding saja masih jarang. 
Yang lebih menyedihkan adalah kadang yang mengecilkan pencapaian-pencapaian ini bukan hanya laki-laki yang minder sama perempuan mandiri dan cerdas, kaum perempuannya sendiri juga berpikiran kolot terhadap perempuan lain yang menganggap pernikahan, keluarga dan anak adalah hal utama dalam tujuan hidup seorang perempuan. Kembali ke ide awal bahwa prioritas setiap orang kan berbeda-beda. Ada yang life goalnya pengen jadi ibu diusia muda, ya silakan. Ada yang pengen jadi profesor filsafat sekaligus penyanyi jazz, Monggo aja. Pengen jadi WAG’S atau relawan UNHCR, sip 2 jempol. Yang pentingkan jangan bercita-cita untuk merebut pasangan atau suami orang lain, ya kalau tetep mau begitu siap-siap aja digempur warganet Indonesia yang terkenal kejam-kejam.
Hmmm kalau aku sih cuma ingin hidup tenang dan aman dengan atau tidak ada orang di sisiku, yang pentingkan gak menyusahkan orang lain. Aku mandiri dan bisa mengurus diriku sendiri dengan baik, nyisihin separuh gaji untuk nyokap tiap bulannya. Dan kalau menurut kalian itu belum membuatku layak sebagai manusia, aku bisa apa coba? Itu sih Masalah kalian, bukan masalah ku. Hehehe. 

Tentang Rumah

Sebagai perantau sejak lulus SMU, aku sudah terbiasa hidup sendiri jauh dari rumah. Sudah terdidik untuk menjaga diri dan menyelesaikan masalah-masalah sendiri. Dan orang tua, terutama papa, percaya benar dengan kemampuanku untuk nggak bertindak macem-macem. Beliau haqul yakin kalo anak perawannya tidak akan pernah mengecewakannya. So far sih gitu.

Lalu setelah papa enggak ada lagi, di dunia ini yang disebut rumah bagiku adalah ibu. Nyokap. Cuma tersisa satu dan aku selalu saja merasa kurang cukup bisa membahagiakannya. Nyokap nangis waktu aku bilang seperti itu, buatnya apa yang aku lakukan udah lebih dari cukup. For her, i give my all. Everything. Buat kalian yang masih hidup dengan orang tua, kalian diberkati. Sementara kami-kami ini cuma bisa mengandalkan telefon dan video call atau mudik setahun sekali untuk meluk nyokap. Kalian bisa makan masakan nyokap setiap saat, dicerewetin, diajak kondangan atau diseret ke pasar untuk nenteng belanjaan dan bayarin sekalian. Percaya deh, kalian tetap lebih beruntung kok.

 

Nyokapku udah tua. Saat aku melihat kerutan diwajahnya atau uban dirambutnya, aku berdoa dengan egois, semoga aku mati muda sehingga tak perlulah merasakan kehilangan ‘rumahku’ ini. Sudah cukup aku pernah kehilangan satu-satunya kamus bahasa inggris berjalan, pemain gitar band belakang rumah, gudang buku, pencerita hebat, penggemar berat Beatless, tertuduh utama yang mencekoki aliran musik rock klasik.
Bokap boleh jadi cinta pertamaku yang enggak mati-mati tapi nyokap adalah semuanya, semuanya yang ada dihidupku.

Kau tak tahu rasanya

Satu hal yang aku pelajari usai kehilangan bokap, bahwa sebesar apa kasih sayangmu terhadap orang-orang yang kau cintai maka sebesar itu pula rasa sakit yang kau tanggung saat kehilangannya. Tetapi mereka yang kita cintai dengan sungguh-sungguh akan selalu abadi meski sudah mati, mereka akan tetap hidup dalam kenangan kita.

LAGU NATAL, DESEMBER DAN INDONESIA YANG KITA CINTAI

Lagu-lagu natal mulai ramai berkumandang.
Memasuki desember adalah biasa bagi saya untuk mendengar lagu-lagu natal kristiani berkumandang baik yang bahasa inggris atau bahasa batak, karena tetangga saya beragama kristen dan karena rumah kakek saya dari pihak papa dan kakek saya dari pihak ibu, keduanya sama-sama dekat gereja.
Itu tidak mengganggu kami. Bahkan hampir setiap malam, tercium bau dupa hio dari rumah sebelah kiri kami, yang dihuni keluarga tionghoa dengan nama anaknya Ahok. Iya Ahok tapi bukan Ahok yang di Jakarta. Ahok yang ini teman masa kecil saya. Sayangnya setelah ibunya tewas dibunuh perampok, mereka pindah dan saya tidak tau kabar terakhirnya.
Kembali kemasalah lagu natal. Saya tidak perlu merasa terganggu. Mungkin sama dengan yang dirasakan oleh pemeluk agama lain saat mendengar suara azan dari mesjid. Saya bahkan hanya mendengarnya setahun sekali dibulan desember, bayangkan mereka yang mendengarkan setiap hari nyaris beberapa kali sehari tergantung rajinnya merbot. Jadi jangan tanyakan toleransi mereka terhadap kita ya, karena kita sama-sama taulah dinegeri ini yang minoritas lebih banyak menahan diri dibandingkan yang mayoritas. Contoh kejadian di Tanjung Balai Asahan, ada seorang ibu Tionghoa yang protes suara speaker mesjid, vihara-vihara langsung banyak dibakar massa. Padahal belum tentu si ibu ini seorang budhist atau hindu, bisa saja kan ia katolik atau kristen. Lalu pembakaran umat ibadah ini apakah boleh dibenarkan? Tidak berapa lama setelah kejadian ini, di tempat yang sama ada protes tentang patung budha yang besar di vihara kota Tanjung Balai. Saya kurang jelas protesnya karena apa, apakah karena mengganggu agama lain atau apakah permasalahan izin. Kalau mengganggu memangnya patung bisa apa coba? Padahal patung tersebut sudah lama berada disana dan sudah tentu mendapatkan izin untuk tempat beribadah, akhirnya solusinya diturunkan dan dipindah. 
Menariknya adalah komentar para pemeluk agama budha disana. Mereka tidak masalah patung budha besar itu dipindahkan, iman mereka tidak terganggu dengan itu karena budha selalu dihati dan pikiran mereka, tidak tergantung oleh sesuatu dan benda. Bukankah seharusnya begitu?
Bukankah seharusnya iman kita seperti itu? Tidak terganggu oleh hal-hal kecil semacam apa yang dikatakan sebagian orang-orang sebagai penghinaan terhadap alquran (belum terbukti secara hukum). Apa dengan alquran dihina, agama kita dihina, maka alquran dan islam menjadi hina dihati kita? TIDAK. Aku pribadi tidak merasa seperti itu. Kalau boleh aku bilang iman aku melampaui hinaan dan fitnah terhadap alquran dan islam, hal itu tidak membuat imanku menurun ataupun hilang. Karena sekali lagi iman ini adanya didalam hati, pikiran dan perbuatan kita. Alangkah rapuhnya iman bila hanya karena hal-hal tersebut kita terganggu.
Apakah saya pernah bercerita bahwa saya pernah makan satu meja dengan teman, saya makan rendang dia makan babi dan seorang teman yang lain vegetarian? Saya tidak perlu merasa terganggu teman makan babi meski babi haram dalam agama saya. Pun teman yang lain tak perlu merasa terganggu sebab saya makan sapi sementara sapi bagi dia dan kaumnya adalah hewan yang suci atau reinkernasi dari kehidupan yang lalu. Itu yang saya sebut dengan toleransi beragama. Tidak sulitkan?
Saya hanya ingin Indonesia menjadi lebih baik. Menjadi tempat yang menyenangkan dan aman bagi anak keturunan kita tanpa takut dibedakan, bebas berteman dengan siapa saja, bahu membahu membangun negeri ini. Kita memang memiliki banyak sekali perbedaan agama, suku, rasa dan pandangan politik mungkin tapi bukan berarti gak bisa bersatu dalam perbedaan. Ada kok hal yang membuat kita sama, kita sama-sama cinta damai karena itu kita percaya Tuhan dan kita sudah pasti cinta negeri ini, Indonesia. Dan apapun itu, saya muak dengan perbedaan yang membuat kita terkotak-kotak dalam pikiran tapi saya masih sayang kamu.

Surat untuk Tante Moken, Indonesia 04 November 2016

images.jpeg
Dear Tante,

Apa kabar? Semoga Tante, Om dan keluarga dalam keadaan sehat.
saya jarang nulis sekarang Tan, sibuk kerja sampai gak punya waktu buat mikir (alasan saja, dasarnya emang pemalas). Hehehe bisa ngeles.
Kemarin, 04 Nov 2016 adalah hari berat Tan. bukan buat orang-orang di Jakarta, bukan hanya kaum minoritas tetapi yang berasal dari mayoritas seperti saya pun merasakan sesak ini. kegelisahan melihat betapa rapuhnya kemanusiaan di tunggangi oleh hal-hal yang katanya ‘MEMBELA AGAMA”.
Saya jadi bertanya mengapa kaum saya begitu merasa tidak aman/insecure? padahal mereka mayoritas? orang-orang mereka yang menguasai seluruh sendi-sendi kehidupan di Indonesia ini, kok mereka segitu takutnya? ini umat ini kaum apa sih, apa-apa kok takut lalu bagaimana kaum minoritas, suku-suku, penganut agama lain? apa dan bagaimana yang telah mereka hadapi dan rasakan selama ini, saya yakin jauh lebih tidak nyaman dari yang kaum mayoritas rasakan saat ini.
Poor people. saya gak bisa marah dengan mereka Tan.
bukan agama yang salah, bukan islam atau kristen atau budha.
mereka hanya gak pinter sedikit.
gak pinter karena segitu sensitifnya.
gak pinter karena mudah saja diprovokasi oleh hal yang belum tentu benar.
gak pinter karena malah ngecilin kekuatannya Tuhan
gak pinter karena gak bisa melihat gambaran yang jauh lebih luas.
ini bukan masalah agama Tan.
ini masalahnya karena Ahok cina dan dia non muslim.
ini masalahnya mau goyang jakarta, mau bikin rusuh kayak tahun 1998, mau GULINGKAN JOKOWI.
tapi orang-orang gak liat ini.
kenapa?
karena dibungkus masalah agama, agama paling besar dijagad ini, ISLAM.
Aku malu Tan, marah dan terutama sedih.
Aku minta maaf atas nama kaumku.